Social Icons

Jumat, 01 April 2016

Ntah Lah

Tik..tok..tik..tok..

Detak jam wekerku terdengar begitu jelas di antara gemuruh suara pesawat yang lewat,terbang di atas rumah kos, tempatku berada sekarang. Menemani dinginnya hati yang sudah hampir mencapai titik beku. Menyentuh telinga tanpa mau mengganggu pemiliknya. Diam merenung seakan berada di puncak gunung dengan berjuta hiasan titik embun.

Ntah lah,
Masih banyak pertanyaanku tentang dunia seisinya. Memang, dunia ini pelik adanya. Aku sudah seringkali menyelami berbagai sudut dunia yang ada. Mencoba menemukan arti sebuah kata. Kata yang kebanyakan orang akan terhipnotis karenanya. Membenarkan yang salah, menyalahkan yang benar. Membuat mudah semua hal yang terasa susah. Membuat ringan semua hal yang terasa berat. Kata itu sering kita ucap dengan nama ‘cinta’.

Ntah lah,
Aku masih ingat jelas bagaimana mereka berdua bercerita tentang kisah mereka. Sebuah kisah pelayaran cinta. Kisah yang diarungi sepasang manusia tanpa tahu dimana letak ujungnya. Kisah yang mereka harapkan berakhir bahagia tanpa sekalipun mereka bisa memastikannya.

Ntah lah,
Pertanyaan berikutnya muncul ketika aku menatap awan putih yang bersemayam di atas sana, “kenapa keduanya menceritakan semua ini kepadaku, tanpa mereka tahu sedikitpun bahwa aku adalah orang yang sama di balik celoteh kisah mereka?”

Ntah lah,
Aku anggap ini adalah bagian dari rencana-Nya, agar aku mau belajar tentang segala hal yang Dia putuskan. Sudah jelas! Tak akan pernah ada yang bisa diragukan atas kebaikan dan keindahan rencana-Nya.

Ntah lah,
Saat terik matahari tak bisa kuhindari kala menyapa sejuknya pagi, seorang jelita nan jauh disana bercerita kepadaku akan sesuatu. Telah datang kepadanya keseriusan seorang lelaki yang hendak menjadikannya pendamping hidup, mengarungi sisa waktunya bersama, selamanya. Lelaki yang berbeda, bukan orang yang selama ini ada di kisah cintanya. Dia mengaku senang, walaupun sebenarnya aku menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik pengakuannya itu. Ah, tidak! Aku mana tahu ada hal yang masih ia sembunyikan atau tidak. Ya, aku tidak tahu.
Beberapa jam kemudian di bawah langit yang berbeda, dekat dengan keberadaanku, seorang pria dengan penampilan yang kalem turut bercerita kepadaku. Dia akan kehilangan sebuah kesempatan yang dulu hampir dia dapatkan. Dia pernah berjanji pada seorang wanita yang dia dambakan untuk menjadikannya teman berlayar, mengarungi samudera kehidupan, bersamanya. Tapi dia telah didahului seseorang. Kini wanita pujaannya sudah ada yang meminang. Lelaki tampan yang sepertinya sudah jauh lebih siap untuk menyegerakan membangun kelurga, tanpa ada suatu kendala. Berbeda dengan dirinya.

Ntah lah,
Seorang jelita itu masih saja bercerita tentang sebuah pertemuan dengan lelaki yang berniat menjadi suaminya kelak. Sebuah hal yang mengejutkan menurutnya. Mungkin ini obat dari sang pencipta untuk menyembuhkan laranya. Lara yang harus ada karena sebuah ketulusan untuk menjalankan perintah. Sebagai bukti pengorbanan untuk membalas kebaikan cinta, dari-Nya. Dia pernah rela mengakhiri kisah cintanya.Berharap bisa mencurahkan segala rasanya kepada sang Pemilik Cinta. Hingga nanti tiba suatu masa dimana Sang Pemilik Cinta mengijinkan kisah itu terjalin kembali, seperti sebelumnya.
Masih dibawah langit yang berbeda, pria kalem itu bercerita tentang upaya untuk mengikhlaskan segalanya. Mencoba meringankan langkah kaki untuk melalui jalan yang telah dia pilih. Meluapkan seluruh rasa cinta kepada suatu Dzat, Dzat yang lebih berhak atas cintanya. Sebenarnya, pilihan untuk mengakhiri hubungan mereka itu sangatlah berat. Tapi apa boleh buat, pilihan itu sudah dia ambil berikut konsekuensinya. Langkah kaki yang masih terasa berat mungkin disebabkan karena dia belum bisa menjawab sebuah pertanyaan, “Bisakah aku melalui jalan yang kuambil hingga sampai pada akhir yang baik?”

Ntah lah,
Saat untaian ceritanya terucap melalui deretan huruf di layar hape-ku, aku semakin merasa bahwa sang jelita memang masih menyembunyikan suatu rasa. Mungkin dia masih enggan melupakan cinta lamanya. Dia asyik bercerita bagaimana dulu hari-hari saat membersamainya. Memasakkan sebuah makanan dengan bentuk hati untuknya.Membelikan beberapa bungkus obat saat pucat menghias wajah dan lelah menemani tubuh kekasihnya.
Aku selalu berusaha untuk bersabar ketika telingaku mendengar suaranya seringkali berubah.Terkadang senang penuh semangat, terkadang lirih dengan serak yang berat. Pria kalem itu mengaku jika hampir seluruh tempat di tiap sudut kota adalah saksi perjalanan cinta mereka dahulu. Warung makan, tempat jus, kantin sekolah, masjid kampus, kontrakan, bioskop, mall, dan yang lainnya. Seolah tempat-tempat itu menyanyikan lagu untuknya mengenang masa-masa itu.

Ntah lah,
Hingga detik akhir sang jelita akan memutuskan untuk menerima lamaran lelaki itu, dia masih menyempatkan untuk mengirim pesan kepada cinta lamanya. Dia menjelaskan keputusan yang hendak dia ambil. Berusaha sebaik mungkin menjaga hubungan dan silaturahim yang haram diputuskan.
Pada masa itu pula si pria kalem menahan hatinya yang sudah merapuh. Bingung mau membalas pesan darinya atau cukup hanya membacanya? Dia mengaku, sebenarnya dia sudah mengikhlaskan ini semua. Hanya saja masih berusaha perlahan untuk melupakan kisah cinta mereka. Kisah lama yang hingga kini masih menggantung di atas kepalanya. Butuh waktu katanya.

Ntah lah,
Aku masih belum tahu ini sebuah kisah yang menyenangkan atau menyedihkan. Bagiku tidak ada kata salah dalam segala hal untuk mendahulukan cinta kepada-Nya. Mau berkata apapun, memang Dia yang lebih berhak atas semuanya. Yang jelas aku bangga dengan pilihan mereka yang sama, sama-sama mendahulukan cinta mereka kepada-Nya. Walaupun di akhir, mereka tidak bisa lagi melanjutkan kisah cinta yang sudah pernah ada. Kecuali dengan rencana dan ijin dari-Nya.

Ntah lah,
Aku masih belajar untuk terus mencari dan memahami ini semua. Kisah lain tentang dua orang sahabat yang mendahulukan cinta mereka kepada Sang Mahacinta. Kisah yang bukan hanya sekedar dongeng pengantar tidur, namun nyata terjadi dan tersimpan rapi beberapa abad lamanya. Tinggal aku dan kamu berani belajar dari kisah ini atau tidak.

Ntah lah,
Seorang lelaki gagah Persia, Salman Al Farisy, meminta bantuan sahabatnya Abu Darda’ untuk meminangkan gadis yang berasal dari kalangannya. Semua persiapan dan bekal untuk pernikahan sudah berada di genggaman tangan Salman. Abu Darda’ juga tak kalah dalam mempersiapkan kalimat manis untuk menaklukkan hati gadis pujaan dan keluarganya. Tentu demi sahabatnya, Salman. Hingga saat-saat yang menentukan itu telah tiba. Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana mereka. Tinggal menunggu jawaban dari gadis yang dipinang. Namun, ketika jawaban yang dinanti sudah disampaikan, suasana terasa berubah seketika. Semua merasa aneh,canggung, dan kaget dibuatnya. Bagaimana tidak, sang gadis menolak secara halus pinangan dari Salman. Tidak hanya sampai disitu, dia mengutarakan jika Abu Darda’ sebagai orang yang mengantar juga berkenan atas dirinya, sang gadis tidak akan menolaknya. Nah, kira-kira apa yang ada di benakku dan benakmu jika saat itu kita ada disana? Lalu, Salman? Ah, ternyata dia begitu mulia hatinya. Dia justru tersenyum, kemudian menghadiahkan semua bekal pernikahan yang telah dia persiapkan sebelumnya kepada Abu Darda’ untuk meminang sang gadis.

Ntah lah,
Aku jelas tak tahu persis bagaimana hati Salman waktu itu. Mungkin baginya kebahagiaan saudaranya adalah kebahagiaannya, toh itu juga perintah dari-Nya, sebagai pembuktian cinta Salman kepada-Nya dan Abu Darda’, saudaranya. Jarang aku temui pada abad modern seperti sekarang akan hal semacam ini, rasa cinta yang sudah mencapai kadar tertingginya, mencintai Dia lebih dari segalanya. Tapi, bukan berarti hal itu tidak mungkin terjadi di masa sekarang kan? Boleh juga ini yang terjadi pada seorang jelita dan pria kalem, sahabatku.

Ntah lah,
Aku hanya berharap suatu saat nanti aku akan menemukan jawabannya. Ah, tidak! Aku tidak hanya ingin menemukan jawabannya, tapi juga ingin merasakannya. Merasakan cinta kepada-Nya melebihi dari segala hal yang ada. Aku beranggapan ketika aku mencintai-Nya, maka secara otomatis aku juga mencintai segala hal yang pantas dicintai selain Dia, tentu atas keridhoan-Nya.

Sekarang, jam weker itu masih saja berdetak. Sama seperti tadi. Kali ini ditemani gemuruh suara kipas angin. Masih menemani liarnya otakku, menghiasi tarian tanganku diatas deretan kotak hitam bertuliskan huruf, angka, dan tanda baca.

Tik..tok..tik..tok..

*published on February 16th, 2014

Kamis, 31 Maret 2016

Tulisan




Tulisan yang aku maksudkan adalah tulisanmu. Aku begitu menyukainya, addictable! Bahasamu jujur, polos, namun selalu saja mengena. Sesekali membuatku tersipu malu. Atau, membuatku tergelak tidak karuan.

Tulisanmu juga menyelematkanku dari beratnya hubungan jarak jauh. Hampir 1 tahun penuh setelah kita menikah, kita selalu berusaha berdamai dengan keadaan, dibalik layar kaca hape kecil kita terus saling menguatkan. Kau menulis berbagai hal tentangmu, tentangku, tentang kita. Sekali lagi, aku menyukainya.

Kali ini tulisanmu mulai berubah. Kau tidak hanya menulis tentang kita berdua, tapi ada satu lagi tentang makhluk ciptaan-Nya yang tengah bersemayam dan terus tumbuh dalam rahimmu. Dia yang akan mewarnai kehidupan kita selanjutnya, juga mewarnai tulisan-tulisanmu. Tulisanmu tentangnya mungkin akan menjadi lebih menarik dibanding tulisanmu tentangku. Tapi tenang saja, aku tak mengapa. Tak perlu aku merasa cemburu, karena aku tahu kau akan menulis kebaikan-kebaikan tentang dia, anak kita.

Tulisanmu, aku suka.

Beide dan Beide

Selasa, 08 Januari 2013

Di Balik "Rumah Sakit"

yah,,, sudah semakin lama tak memperhatikan blog ini, hmmm... entah aku yang memang sibuk, atau jangan2 aku sok sibuk ya? ^^v
sebenarnya ini waktunya aku harus belajar untuk UAS besok, ada beberapa tugas yang harus selesai pula... tapi tanganku sudah benar-benar gatal untuk segera menulis lagi disini. =D

bismillah...
sore ini benar-benar aku merasa "menganggur", padahal aku sedang berada di sekret BEM tercinta (ah, aku masih berusaha mencintainya). *anak BEM kok nganggur? #plak! Oh ya, baru saja laporan KP-ku dikembalikan dosen pembimibing dan disana terpampang jelas nilai AB. Bersyukur pake banget, bukan karena nilai AB nya, tapi karena akhirnya dikembalikan juga tuh laporan KP-ku, karena jika tidak aku sudah dapat WARNING buat ngulang KP, na'udzubillah min dzalik.. =D

Di tengah menganggur yang tak begitu mengenakkan itu, aku melihat anak-anak Hublu pergi, katanya mau ke rumah sakit, mau jenguk sekmen mereka yang lagi sakit. Tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk ikut, dan kakiku segera saja melompat untuk mengejar mereka. Aku merasa ada banyak hal yang aku dapat setelah aku mengunjungi temenku itu sebelumnya. Aku pengen dapat sensasi yang berbeda itu lagi di rumah sakit.

Simpel banget sih sensasinya, tapi gak sesimpel kita tidur pas kuliah berlangsung.. =P
aku merasa tiap detik waktu kita benar-benar berharga banget. Selama di rumah sakit, seolah waktu berjalan luuuaaaammbbbaaaaatttt pake banget. Air hujan, orang lalu lalang, dan lain-lainnya, semua seperti diberi efek slow motion. Angin sejuk yang jarang hadir di Surabaya menyapu wajah ini dengan begitu lembutnya, sekali lagi terasa lambat seperti diberikan efek slow motion. Yeah... aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit itu sendiri sembari merasakan itu semua. Bergegas menyusul anak-anak hublu yang sudah pergi lebih dahulu.

Tiba-tiba saja aku merasa, "kok jadi ketagihan gini ya ke rumah sakit?" Abisnya seru sih, sekali lagi ada sensasi yang berbeda. Aku pengen ceritain sih gimana sensasinya, tapi ntah kenapa aku gak menemukan kata-kata yang pas untuk menulis dan menggambarkannya. Dulu, aku sempat menjadikan rumah sakit sebagai salah satu tujuan ketika aku mau refreshing. Ntah karena banyak orang yang ceramah, mengatakan kalo mau bersyukur lebih pergi saja ke rumah sakit. Yak, itu benar! Itu salah satu yang aku dapatkan. Bagaimana tidak? ketika aku bisa berjalan menyusuri lorong dengan begitu tegap dan kuatnya, aku berpapasan dengan orang yang didorong di atas tempat tidur dengan kondisi yang tidak berdaya. Ketika aku bisa meraakan sapuan angin di wajahku saat itu, aku gak yakin mereka-mereka yang sakit beserta keluarganya juga merasakan hal yang sama. Belum cukupkah itu untuk membuat kita bersyukur? 

hmmm... tapi sepertinya bukan hanya karena aku bisa membuktikan ceramah itu saja. Aku punya rencana nanti ketika sudah punya anak, salah satu media untuk mendidik dia adalah dengan mengajaknya berkunjung ke rumah sakit. Satu pekan sekali kah, sebulan sekali kah, yang jelas aku pengen memberikan pelajaran berharga terbaik untuk mereka dengan merasakan sendiri melalui hati mereka. Itu kenapa aku pengen banget memasukkan list "rumah sakit" sebagai salah satu tujuan untuk refreshing. =D

Lanjut, tahukah kawan? Ada keunikan di ruangan kelas II dan III rumah sakit? Disana kita akan mendapat keluarga baru secara langsung lo... Hati dari keluarga si sakit seolah terikat satu sama lain dengan begitu kuat. Wallohua'lam, ntah karena merasa senasib sepenanggungan atau karena ada energi lain yang membuat mereka demikian. Toleransi muncul begitu saja di tengah-tengah mereka. Senyum-senyum terkembang tanpa sadar saat mata-mata yang indah ini saling bertatapan. Bahkan, perhatian-perhatian yang mungkin tidak pernah kita dapatkan di luar, disini akan kita dapatkan. Percakapan yang biasa muncul di tengah keluarga-keluarga si sakit:

  1. "Mas, sudah makan? Ayo makan bareng sama saya.." --> ini yang paling sering, bahkan kemarin waktu jenguk aku dapat 1 bungkus nasi pecel dari keluarga sebelah.
  2. "Bu, kalo capek tidur disini Bu... Karpet saya masih luas, daripada tidur sambil duduk begitu..."
  3. "Pak, kalo mau sholat, sholat saja.. biar si fulan saya saja yang menjaga, nanti bisa gantian."
  4. "Bagaimana kata dokter? tekanan darahnya sudah normal belum?"
  5. "Kalo tidak bisa minum obat tablet, mending ditumbuk saja, itu pinjam tumbukan di perawat tidak apa-apa."
  6. dan lain sebagainya.....

Ya, itulah yang akan terjadi secara alamiah di kelas II dan III. Perhatian yang begitu menyejukkan. Suatu wujud memanusiakan manusia yang sebenarnya.

Pernah diskusi dengan keluarga si sakit yang masih muda/anak-anak/remaja? Dimana dia tidak hanya menunggu saja, tapi juga sebagai titik inti dari keluarga si sakit, yang akan mengambil keputusan apapun yang akan diberikan pada si sakit? Jika kita bertemu dengan mereka, mereka lah orang-orang yang dituntut belajar lebih cepat. Akselerasi pola pikir, kedewasaan berpikir, dan kesiapan mental yang super kilat. Aku pun pernah mengalaminya saat bapak untuk yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya masuk rumah sakit. Benar-benar dituntut berpikir lebih ekstra, apalagi saat harus megetahui bahwa Allah sudah berkehendak lain dan memiliki rencana besar nan indah setelah beliau tiada, apapu itu. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya untuk bapak dan Tias. :)

Lanjut dah.. :) pernah sholat di mushola/masjid rumah sakit? Disana kita akan merasakan energi-energi positif yang begitu besar yang mungkin tidak akan kita dapatkan di mushola/masjid di tempat biasa. Serasa tenang, begitu khusyu', begitu sungguh-sungguh ketika disana. Bahkan, mungkin kita akan menemui orang yang dari penampilan "mungkin" terlihat begitu sok, tapi ketika sudah di dalam masjid mereka begitu tawadhu'. Tanya kenapa? =D

Pernah menemui orang yang sakaratul maut dan meninggal di rumash sakit. Nah, saat-saat seperti inilah yang membuat kita aka berpikir jaauuuuuhhh lebih dalam, bahwa setiap detik waktu kita begitu berharga. Kita akan berpikir sudah berbuat apa saja kita sebelumnya. Bagaimana jika setelah ini kita yang mendapatkan giliran seperti mereka? Nah kan, jadi mikiirr... =)

Itu beberapa hal saja sih, pengen nulis lagi, tapi teringat tugas dan UAS... hehehe

Mau ikut aku jalan-jalan ke rumah sakit? =D

Sabtu, 29 September 2012

Warna-Warni Kampusku

Suara kendaraan bermotor itu menderu, bising, memekakkan telinga. Barisan panjang dengan kumpulan warna serupa diiringi bendera-bendera besar bergambar logo-logo himpunan penuh wibawa. Yel-yel serta pekikan-pekikan semangat meluncur bagai roket dari lidah-lidah mereka, tak peduli seberapapun panasnya kota Surabaya. Sebuah euforia yang ditampilkan oleh mahasiswa-mahasiswa kampus pahlawan ini untuk menyambut para wisudawan yang tengah berbahagia. Mendapatkan sebuah gelar baru, mendapatkan amanah baru.

Banyak masyarakat yang menunggu kehadiran mereka. Bukan untuk memenuhi lapangan pekerjaan yang ada, atau menambah jumlah masyrakat Indonesia yang lulus dari bangku perguruan tinggi. Namun, kehadiran mereka dinantikan untuk memberikan sebuah perubahan. Setidaknya mereka diharapkan dapat menyalakan secercah cahaya di tengah-tengah kegelapan. Harapan seperti ini tidak hanya digantungkan pada mahasiswa yang sudah menyelesaikan studinya, namun juga mahasiswa-mahasiswa yang tengah menjalani masa perkuliahannya.

Mengingat begitu besar harapan-harapan masyarakat terhadap mahasiswa inilah yang membuat hati ini berlutut merenungkan segala hal yang terjadi. Di kampus ini ternyata ada sebuah hal yang menjadi masalah pelik. Perbedaan pandangan, perbedaan prinsip, perbedaan visi, dan perbedaan cara dalam mewujudkan sebuah visi. Perbedaan inilah yang kemudian menjadi sebuah senjata ampuh untuk memecah persatuan dan kesatuan antara mahasiswa satu dengan mahasiswa yang lainnya.

            Kampus pahlawan ini ibarat rumah sakit sekarang. Memiliki bangunan yang sangat megah dan indah, namun di dalamnya terdapat banyak sekali orang yang sakit dan lemah. Pernah suatu masa kampus ini memiliki masalah integralistik. Setiap jurusan ingin terlihat lebih menonjol dari jurusan yang lain. Setiap jurusan ingin dilihat sebagai jurusan terbaik bagi yang lain. Sehingga menjadi sebuah hal yang wajar ketika ada mahasiswa yang bermasalah dengan mahasiswa lainnya hanya karena mempertahankan sebuah ide, “jurusanku lah yang terbaik”. Itu gambaran masa lalu, dan sekarang hal itu sudah mulai berubah. Namun, sangat disayangkan saat perubahan itu ada, masalah integralistik itu hampir hilang sama sekali, muncul masalah baru lagi yang mengancam keutuhan keluarga kampus ini.

“Jika ada rakyat yang mengadu kepada dewan perwakilannya, itu adalah hal yang wajar. Namun bagaimana mungkin ada anggota dewan yang mengadu kepada rakyatnya?”

Itu adalah ucapan yang keluar di sebuah forum beberapa waktu yang lalu. Ucapan yang penuh kekecewaan dari “rakyat” kepada dewan perwakilannya, dewan perwakilan mahasiswa (DPM). Hal itu disampaikan di muka umum pada saat forum transparasi terkait pembentukan KPU (komisi pemilihan umum) oleh DPM. Sebenarnya cukup panjang permasalahannya jika diruntut dari awal. Pada dasarnya DPM sudah melakukan prosedur pemilihan dengan benar, namun masih dipertanyakan proses pemilihannya oleh mahasiswa yang ada di jurusan. Jawaban DPM atas pertanyaan itulah yang membuat masalah itu muncul. Ketidakpercayaan.

Sepertinya sudah menjadi rahaisa umum bahwa sekarang sedang ada perang dingin di dalam keluarga mahasiswa ITS. Dipungkiri atau tidak, “golongan-golongan” itu ada. Ada merah, kuning, hijau, biru, putih, bahkkan ada golongan orang-orang yang tak bergolongan. Berkembang di setiap jurusan dan lembaga. Setiap golongan memiliki tujuan masing-masing. Setiap golongan punya keinginan masing-masing. Inilah yang kemudian menjadi masalah baru setelah masalah integralistik yang pernah terjadi di KM ITS. Dan inilah yang menjadi salah satu sebab terjadinya kasus DPM di atas. Sekali lagi, mau dipungkiri ataupun tidak.

Apakah ini adalah sebuah masalah yang besar? Ya! Jika dibiarkan seperti ini terus, maka sampai kapan KM ITS benar-benar akan bersatu? Memberikan kontribusi secara maksimal untuk masyarakat dan bangsa ini. Mungkin bagi beberapa pihak ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang konyol, namun apakah sudah ada yang bisa menjawab dan memberikan perubahan atas pertanyaan-pertanyaan ini? Sekali lagi, menjawab dan memberikan perubahan, bukan hanya menjawab tanpa ada tindakan untuk mengubahnya.

“Mewujudkan keluarga mahasiswa ITS yang mandiri, professional, demokratis, dan dinamis yang dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan YME, nilai kejuangan sepuluh nopember serta nilai kerakyatan dalam rangka mempelopori pengembangan Ilmu Pengetahuan, Seni dan Teknologibagi kesejahteraan masa depan almamater, masyarakat, dan bangsa.”
(visi KM ITS dalam Mubes IV pasal 7)

Tidakkah kita bisa duduk bersama untuk membuat gerakan yang lebih besar dan bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa? Tidakkah kita bisa melepaskan “jaket warna” kita sejenak untuk sebuah visi bersama? Bukankah akan lebih baik jika kita mau saling menghargai, saling memahami, dan saling melengkapi? Kedewasaan berpikir harus dibentuk dan diutamakan disini. Sulit? Memang. Tapi lebih baik segera kita nyalakan cahaya itu dalam kegelapan daripada kita hanya mengutuk kegelapan itu.
Kita patut yakin bahwa setiap mahasiswa memiliki visi yang luar biasa besar untuk bangsa ini. Begitu pula “golongan-golongan” yang ada. Hanya jalan dan cara yang ditempuh saja yang berbeda. Akankah lebih indah jika jalan yang diambil adalah jalan yang saling melengkapi? Konstruktif, bukan destruktif! Setelah itu mari kita rasakan perubahan itu di kampus ini, setelah itu mari kita berikan energi positif pada masyarakat dan bangsa ini. Kita jawab harapan masyarakat kepada kita saat kita bergelar sarjana dan mahasiswa. Bukan hanya euforia saat wisuda semata yang kita berikan, tapi kebermanfaatan yang bisa kita sampaikan.

"Lepaskan sementara “jaket warna”-mu jika sudah berbicara dan berjuang demi KM ITS yang satu!"

Jumat, 27 Juli 2012

Berkendara feat Muraja'ah






Sebuah pertanyaan dulu sebelum lanjut membaca tulisan ini, saya ingin bertanya beberapa hal:

.Sudahkah membaca Al-Qur'an hari ini?
.Sudahkah menambah hafalan Anda hari ini?
.Sudahkah membaca terjemah Al-Qur'an hari ini?
.Sudahkah mentadaburi Al-Qur'an hari ini?

Yah, pertanyaan itu muncul karena saya akan berbicara tentang Al-Qur'an dan muraja’ah (mengulang kembali-hafalan-Al-Qur’an). Wah, pasti berat nih bahasannya. So, siapkan dulu mental dan fisik Anda sebelum membaca ini sampai selesai (huh, apaan sih?). Tenang, insya Allah bacaan yang ringan koq, karena status di atas bisa kita maknai dengan sederhana dan simple, se-simpel hubungan loe sama gua. Hha

OK, saya ingin bertanya lagi, apa yang biasanya kawan-kawan lakukan saat ada waktu luang? Misal: nunggu teman, nunggu jemputan, nunggu berkas yang harus ditandatangani, *upss… termasuk ketika nyetir motor/mobil. Nah, kita bahas salah satu aja dah. Seringkali ketika kita nyetir motor/mobil, kita menghibur diri dengan nyanyi-nyanyi, melamun, atau meng-galau geje. Seru sih, tapi tahukah kawan ada yang gak kalah seru namun manfaatnya juga pasti dijamin jauh lebih seru? Bayangkan jika kita berkendara (ntah berkendara dengan kendaraan yang setirnya lurus atau kendaraan yang setirnya bunder) lalu kita membasahi lidah kita dengan lantunan ayat-ayat Allah. It's the real 'multitasking'! 

Kita tahu sendiri bagaimana keutamaan membaca Al-Qur'an. Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Selain itu, sesuai dengan lagu obat hati yang seringkali kita dendangkan. Bukankan salah satu obat hati adalah membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya? Jadi, pas banget tuh buat loe-loe yang lagi galau, ntah galau cinTA atau galau TA. Daripada pelampiasannya kebut-kebutan di jalan, teriak-teriak gak jelas sepanjang jalan, mending kan baca Al-Qur’an. Dijamin, maknyesss segerrr… ^^

Nah, sekarang  yuk coba kita bandingkan. Ketika kawan-kawan berkendara sambil bernyanyi, kawan-kawan dapat apa saja? Mentok jedhok natap tembok itu juga buat senang hati doank, tapi senangnya bukan kesenangan hakiki, jelas itu. Karena kesenangan yang hakiki itu hanya bisa didapat dari Allah dan dengan cara yang diajarkan Allah dan Rasulullah.

Eittss…tidak perlu banyak cing-cong ini-itu. Sudah jelas dan mutlak bahwasanya membaca Al-Qur'an itu lebih baik dari hanya sekedar menyanyi, apalagi melamun dan mengalau geje.

Oke, sekarang pasti ada yang bertanya atau bergeming. Itu hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya hafalan. Saya jawab: "Ya makanya, biar bisa begitu, kawan-kawan juga harus mau menghafal!" Jika kawan-kawan mengatakan susah, tuh banyak orang-orang yang belajar dan menghafal Al-Qur'an, nyatanya mereka juga bisa. Kalo tidak percaya, pergi aja ke Masjid Manarul ‘Ilmi, masjidnya orang ITS. Disana kawan-kawan akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang sedang sibuk. Bukan sibuk ngurus anak atau sibuk yang lain, mereka sedang sibuk menghafal atau setoran hafalan Al-Qur’an. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun juga. Ada segerombolan anak-anak kecil (SD-SMP) yang mereka tadarus Al-Qur’an, cuman tadarusnya beda, mereka tadarus tanpa membaca Al-Qur’an. Nah, terus gimana dunk? Mereka membaca hafalan yang sudah mereka punya. Nice, kalo mereka bisa, pasti kita juga bisa. Sama-sama makan nasi. Dan…. Masak kalah sama anak-anak?? ^^v

Gengsi mamen.... Makan tuh gengsi! haha... Demi kebaikan sendiri koq gengsi. 

So, finally... Gak ada salahnya koq menghafal Al-Qur'an. Kalo gak sekarang, kapan lagi? Mumpung pas ketemu bulan Ramadhan, bulannya Al-Qur'an, bulan menuju kemenangan. Lalu, praktekkan tuh…mengisi semua waktu luang kita dengan Al-Qur’an. Siapa tau kan pas lagi asyik-asyik baca/muraja’ah Al-Qur’an, eh malaikat Izra’il datang. Nah, insya Allah Surga itu, aamiin…

Yuk kita sambut cinta dan ridho-Nya Allah kepada kita. (Lhoh, koq sambut? Iya karena memang "default"-nya Allah mencintai kita, tinggal kita mau menyambut cintanya Allah itu atau tidak). ^^
Wallohua'lam bishowab... 

Jumat, 06 Juli 2012

Bertahan Di Sana (bebas memaknai karya)

Setiap manusia jelas sudah dipersiapkan Allah tentang jodohnya. Termasuk masing-masing dari kita. Pertanyaannya adalah 'siapa'?

Seseorang yang sudah tertulis di Lauhl-Mahfudz, namun kita tidak akan pernah tahu siapakah dia, hingga Allah mempertemukannya dengan kita. Yang jelas, kita harus mempersiapkan diri untuk menjemputnya. Mempersiapkan niat dalam hati, mempersiapkan visi, mempersiapkan bekal untuk dia dan anak-anak kita nanti. Terlepas persiapan itu harus dilakukan di tempat yang jauh, dalam waktu yang lama, dan memerlukan usaha yang begitu besar dan berat. 


"Tunggulah aku wahai bidadari yang sudah dipersiapkan Allah untukku, aku akan mempersiapkan diri untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat nanti. Mempersiapkan keluarga yang siap menghamba dan mengabdi kepada ilahi. Aku yakin perbaikan diriku juga engkau imbangi dengan perbaikan dirimu disana. Sampai jumpa di sebuah tempat dan waktu terindah untuk menggenapkan separuh agama kita, lalu bersama-sama kita menguatkannya...."



Dinda apa kabar kau di sana

Lelahkah menungguku berkelana
Lelahkah menungguku kau di sana


Sayang, aku kan segera pulang

Tunggu aku dengan senyuman itu
Tunggu aku dengan senyummu itu


Bila waktu itu telah tiba

Coba kenakanlah mahkota itu
Coba kenakanlah mahkota itu
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/s/sheila_on_7/bertahan_di_sana.html ]
Masih banyak yang harus ku cari
Tuk bahagiakan hidupmu nanti


Bisa bertahankah kau di sana

Bisa bertahankah sayang
Coba bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


Bisa bertahankah kau di sana

Bisa bertahankah sayang
Coba bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


Coba bertahanlah

Bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


       (Sheila on 7)

-bebas memaknai karya-

Sabtu, 30 Juni 2012

Janji Kader Himatekla

Kami, kader-kader Himatekla berjanji:

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bersumber kepada-Nya
  2. Melaksanakan peran dan fungsi mahasiswa sebagai pengabdian terhadap bangsa
  3. Memupuk solidaritas dan menjaga semangat kekeluargaan dalam Himatekla
  4. Mempertinggi prestasi untuk membangun kemaritiman Indonesia
  5. Menjaga nama baik Himatekla, ITS, dan Indonesia
*(ini adalah usulan pribadi yang belum pernah disampaikan, hehe)

Minggu, 10 Juni 2012

Hidup dan Mati Kami Ada di Genggaman-Mu Ya Rabb

bismillah...

Selasa, 5 Juni 2012 tidak pernah terpikir olehku akan mengalami kejadian yang cukup banyak diambil hikmahnya. Pagi di hari Selasa itu aku ditelpon ibu, saling bertanya kabar dan terjadi sedikit percakapan tentang tanggal 6 Juni, sebuah tanggal dimana aku pertama kali menghirup udara dan indahnya dunia ini.

Siang harinya aku beranjak ke kampus, masih santai belum terpikir apapun. Hanya saja aku teringat hari itu aku harus pergi mengajar les privat di daerah Semolowaru Elok. Yah... aku lekatkan di ingatanku jam 17.00 aku harus sudah di rumah adik lesku untuk belajar. Sembari menunggu jam 5 sore, aku pergi ke jurusan sebelah untuk sekedar menyapa dan melihat kampanye calon ketua himpunan.

Di tengah-tengah riuh kampanye calon ketua himpunan tetangga, aku melihat jam di handphone: 16.47, sudah harus berangkat. Aku bergegas pergi ke parkir jurusan untuk mengambil motor dan segera pergi ke rumah adik lesku. Di tengah jalan, ada sms masuk. Dari ibu adik yang aku ajar. "Mas, jadi bisa ngajar?" Tangan kiriku segera mengetik balasan, "Iya bu, ini sedang di jalan"

Sampai di rumah tempat aku mengajar, ternyata rumah sepi, hanya terlihat 2 orang anak di dalam. 3 kali aku mengucap salam dan mengetuk pintu gerbang dengan kontak motorku. Tidak lama kemudian muncul adik yang akan aku ajar, Fadhil. Dia kelas 2 SMP, namun dia berbeda dengan teman-teman seumuran dia yang lain. Dia cenderung diam dan penakut. Ibu nya pernah bercerita bahwa si Fadhil memang demikian, 'berbeda' dengan yang lain sehingga aku harus memberikan perlakuan khusus padanya. Namun, spesialnya anak ini, dia berbakat dalam hal bermusik. Sekali mendengar sebuah lagu, dia bisa langsung menebak chord dari musik itu, tanpa sedikit pun memegang alat musik. Dan uniknya tebakannya itu BENAR.

Langsung aku masuk ke dalam rumah setelah dia mempersilakan, dan seperti biasa kami langsung naik ke lantai 2 rumah itu. Di lantai 2 ada studio musik ukuran 3x5 meter tempat kami les. Sebelum masuk ke studio musik itu ada sebuah ruangan sebagai tempat menyetrika dan menyimpan pakaian, sekaligus sebagai 'gudang'. Untuk naik ke lantai 2 kami harus menaiki tangga yang sangat sempit, tidak lebih dari 50 cm. Ibarat pakaian, tangga itu adalah pakaian yang press body.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja aku mengajar, sudah terdengar adzan maghrib. Yah, setelah aku memberikan sedikit materi tambahan dan latihan soal, aku izin ke Fadhil untuk pergi sholat terlebih dahulu. Biasanya setelah aku sholat, Fadhil gantian sholat sedangkan aku mengoreksi hasil pekerjaannya. *sebenarnya ingin sekali aku mengajak dia untuk sholat jama'ah, namun  apa daya, tempatnya tidak ada. Tempat sholat di rumah itu hanya sebuah papan seluas sajadah lebih luas sedikit.

Usai kami sholat, tiba-tiba lampu mati. Bukan karena pemadaman, tapi karena 'listriknya tidak kuat', bahasa kerennya "njegleg". Setelah itu dinyalakan lagi (sama adik yang paling kecil yang berada di lantai 1), tapi njegleg lagi. Seingatku hingga 3 atau 4 kali seperti itu. Hingga yang terakhir lama sekali tidak menyala lagi. Akhirnya aku minta Fadhil untuk melihat adiknya. Barangkali ada yang perlu dibantu. Namun, saat dia membuka pintu studio dia tersentak hingga tubuhnya mundur sambil berteriak.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.... api Mas api... !!!"

Seketika aku berdiri dan membuka pintu. Seperti yang dilihat Fadhil, ada api yang sudah sangat besar memakan habis ruangan tempat menyimpan baju-baju itu. Suara gemuruh api dan angin menjadi satu membuat suasana panas itu menjadi semakin panas. Api yang memakan kayu-kayu dan benda yang ada disana terdengar seperti pepohonan yang akan roboh. Semakin lama semakin keras terdengar. Aku tutup lagi pintu itu hanya sekedar untuk memperlambat jalannya api masuk ke dalam ruangan studio musik. Perasaanku tidak karuan waktu itu. Namun ada satu hal yang sedikit membuatku lebih tenang. Istighfar yang senantiasa keluar dari bibir Fadhil.

Aku mencoba membuka pintu itu lagi untuk mencari celah, mungkin masih ada yang bisa digunakan untuk jalan lari. Dan... menurutku ada! Harapan itu muncul, aku gandeng tangan Fadhil. Tanpa aku lihat wajahnya, aku bertanya padanya.

"Dek, kamu bisa lari?"
"Ndak tau mas....."  Jawabnya ragu.

Mengetahui dia ragu, aku mengurungkan niatku untuk lari. Aku berpikir dua kali. Resikonya juga besar. Kalo nanti jatuh dari tangga bagaimana? Kalo nanti Ada balok kayu yang terbakar jatuh bagaimana? Namun, kalo tidak lari mau lewat mana lagi?

Pikiranku terus berkecamuk.Ditambah lagi, suara adik Fadhil yang berteriak di bawah terdengar semakin lama semakin keras.

"Tolong, tolong, tolong!!! Mas Fadhil, mas Fadhil....!!!"

Terlintas di pikiranku, jika aku bertindak sesuai prosedur keselamatan dalam sebuah musibah, maka aku harus menyelamatkan diri terlebih dahulu. Itu artinya aku harus meninggalkan Fadhil sendirian. Tapi... aku tidak bisa!!!

Kembali aku tutup lagi pintu itu. Sebentar kemudian aku buka lagi, kali ini aku ingin mencari celah kedua. Berharap api sudah semakin kecil. Namun sebaliknya, saat aku membuka pintu justru asap hitam masuk ke dalam studio. Membuat ruangan yang gelap tanpa ventilasi itu semakin pengap dan sesak. Aku mengajak Fadhil ke pojok studio menjauhi daerah yang sudah termakan api.

Aku tak pernah melepas gandengan tanganku ke lengan Fadhil. Sejumlah bayangan berkeliaran di otakku.

....Nanti kalo benar-benar sudah tidak bisa apa-apa, aku akan dekap Fadhil, aku gunakan tubuhku untuk melindungi tubuhnya.
....Wajah ibu yang hanya memiliki aku saat ini, akankah menemui kabar tidak mengenakkan tepat tanggal 6 Juni?
....Akankah aku berakhir disini??
....Akankah kawan-kawanku besok akan mendengar kabar aku telah tiada???

Pikiran-pikiran itu semakin memenuhi ruangan di otakku. Hampir saja aku putus asa. Di penghujung keputusasaanku, aku melihat sebuah kaca buram yang digunakan untuk menambah cahaya dalam ruangan. Ketika melihat itu, lantas keluar pertanyaan dari mulutku dengan setengah sadar.

"Dek, ada pintu lain ndak?"
"Ada mas, tapi gak pernah di pake, di ujung sana."

Mendengar jawaban itu, bergegas semangatku pulih, ada secercah harapan di dalam ruangan itu. Aku mencari-cari di daerah yang dimaksud Fadhil. Rupanya sudah ditutup dengan lapisan kedap suara dalam studio. Sehingga aku harus membongkarnya. Pelan tapi pasti, aku menemukan gagang pintu itu. Aku tarik ternyata masih terhalang karpet. Aku bereskan karpet yang cukup tebal itu agar pintu bisa segera dibuka. Setelah berhasil terbuka ternyata masih ada satu pintu lagi. Pintu ini terkunci!!! Aku berusaha mendobraknya. Dobrakan pertama gagal. Kembali terlintas bahwa harusnya aku bisa dengan mudah membuka pintu itu, gunakan positive thinking dan lanjutkan dengan jurus karate. Ya, dobrakan kedua dengan sekali tendang, dan dengan seizin Allah, alhamdulillah...  Pintu terbuka. Aku melongok keluar, disambut atap rumah tetangga Fadhil. Segera aku bantu turun si Fadhil. Tetangganya membantu dari bawah.

Ketika akan turun, aku teringat ada sesuatu yang tertinggal. Tas, jaket, dan laptop ku tertinggal di studio. Segera aku lari kembali lewat atap rumah, lewat pintu yang sudah jebol, dan bergegas aku mencari dan mengambil barang-barangku. Allah masih berkenan memberikan aku kesempatan hidup. Aku berhasil lolos dari jebakan api itu. Tak selang beberapa lama setelah aku turun, api sudah masuk ke dalam studio.

Aku menunggu di bawah, menenangkan Fadhil dan adiknya sembari menunggu Ibu dan Bapaknya datang. Syukur alhamdulillah, ujian ini telah terlewati. Sepulang dari kejadian itu, mulutku seakan terkunci. Aku teringat dosa-dosa yang pernah aku perbuat. Aku malu! Allah saja masih mau menyelamatkanku di penghujung keputus-asaannku. Lalu dimana aku menempatkan Allah di hatiku selama ini? Ya... Hidup dan Matiku (serta kita semua) ada di genggaman-Nya. Tak pantas kita sombong, tak pantas kita membanggakan dan memuji diri sendiri.

Kita telihat baik, karena memang Allah masih belum membuka kehinaan kita. Semoga kita bisa menjadi lebih baik, karena kita mau berbenah dari segala kelemahan dan kekurangan kita.

Wallohu a'lam bishshowab...

                                          
                                                             foto rumah pasca kebakaran

Beritanya ada disini.

Selasa, 22 Mei 2012

Rindu Ramadhan



Bismillah...

Aroma Ramadhan sudah tercium lo... how about you?

Sekarang sudah bulan Rajab. Dulu para sahabat berdoa, "Ya Allah Ya Rabb, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan." Ingin tumpah rasanya nih air mata ketika membaca dan mengamalkan doa itu.

Betapa indahnya bulan itu,
Betapa sejuk hati di bulan itu,
Betapa banyak orang yang bersukur bisa menemui bulan itu,
Betapa sering Al-Qur'an dibaca semerdu-merdunya di bulan itu,

Bulan dimana Al-Qur'an dulu diturunkan,
Bulan dimana di dalamnya ada malam yang lebih baik dari 1000 bulan,
Bulan dimana Allah menutup pintu neraka serapat-rapatnya,
Bulan dimana Allah membuka pintu surga selebar-lebarnya,

Bagiku...
Ramadhan memiliki tempat tersendiri di hati...

.Ramadhan pernah menggoreskan tinta indah penuh kenangan bersama Tias, adikku. Berlomba memperbanyak bacaan Al-Qur'an, berlomba memperbanyak hafalan doa, berlomba memperbanyak kebaikan yang lainnya. Sekarang dia sudah kembali pada-Nya, semoga Engkau memberikan tempat terindah di sisi-Nya.
.Ramadhan juga bulan yang dipihkan oleh Allah untukku melakukan sebuah perubahan besar yang hingga detik ini aku bisa bertahan. Mempercayakan kepada-Nya 3 hal yang memang sudah menjadi bagian-Nya.
.Ramadhan punya banyak cerita. Cerita pondok Ramadhan ketika SD,SMP,dan SMA. Semua masih lekat kuat di benak. Ah, bagaimana rasanya berbagi, bagaimana rasanya ketika dapat kiriman buka puasa dari teman-teman saat pondok Ramadhan, bagaimana rasanya makan di satu tampah besar bareng kawan-kawan Majelis Ta'lim Nurul Iman, bagaimana rasanya menyiapkan buka bersama di Gempa Smada, cerita memperoleh banyak teman dan serasa dipersaudarakan lewat Kobar (buko bareng) di Manarul 'ilmi oleh kawan-kawan RDK.
.Ramadhan juga memberikan kesan tersendiri saat Dia memanggil bapak ke haribaan-Nya. Tepat di dalam lingkar tangan pelukanku, tepat saat aku membacakan surat-surat indah dari-Nya di dekat telinga beliau. Semoga Dia mengampunkan segala dosa beliau, menerima segala amal ibadah beliau, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Lebih daripada itu, Ramadhan memang punya kesan yang tak akan pernah habis diungkapkan dalam kata dan tulisan.

Semangat menyambut Ramadhan. Semangat menyambut kemenangan.
Prepare dari sekarang ya...

Terinspirasi dari para sahabat yang merindukan kedatangan Ramadhan dan bersedih ketika akan meninggalkan bulan Ramadhan. Semoga Engkau sampaikan kami pada bulan mulia-Mu itu ya Rabb...

Senin, 05 Maret 2012

Rabithah



Sesunguhnya Engkau tahu bahwa hati ini t'lah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu
Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syari'at dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya, kekalkan cintanya, tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyamu yang tiada pernah padam, ya Rabbi bimbinglah kami...
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakkal padamu
Hidupkan dengan ma'rifat-Mu, matikan dengan syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

Kamis, 01 Maret 2012

Strategi BERBAHAYA!


Memang terkadang kita harus mengalah untuk bisa mengerti mereka labih jauh...
Memang terkadang kita harus bersabar untuk bisa mengubah cara berpikir mereka...
Ini berbicara tentang sebuah pengorbanan untuk melancarkan sebuah kata, yaitu "ajakan"

Mungkin bagi beberapa aktivis dakwah, mereka sudah merasa cukup ketika mereka sudah menjaga mentoringnya. Atau sudah merasa cukup karena sudah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran pada 'teman-teman'nya saja. Padahal banyak sekali orang-orang yang masih membutuhkan sentuhan "ajakan" ini. Pada dasarnya mereka merindukan sebuah kedamaian batin, namun mereka tidak tahu apa yang bisa mendamaikan hati mereka. Ini tugas siapa? Ini tanggung jawab siapa?

Perlahan tapi pasti, kita menutup diri dari mereka. Secara tidak kita sadari kita meninggalkan mereka. Kita mempersholeh diri kita sendiri tanpa mempedulikan mereka. Kita berpikir mereka sudah menentukan pilihan hidupnya, padahal mereka masih mencari-cari jalan mana yang benar, jalan mana yang bisa mengantarkan mereka ke kedamaian sejati.

Aku terinspirasi dari salah satu kawan satu pesma yang bisa menjaga hubungan baik dengan mereka. Sosok yang memang bersahabat. Dapat berbagi dengan siapapun yang dia temui. Yang langsung menganggap 'sahabat' setiap orang yang pernah dia temui. Al-hasil, banyak orang yang kita anggap tidak bisa di'ajak' menjadi bisa di'ajak',mentoring dan sholat berjamaah misalnya. Bisa diajak untuk mengarungi jalan ini 'bersama'.

Ternyata benar, ketika kita mau terbuka dan sedikit mengikuti alur yang ada pada diri mereka, aku yakin kita akan terbelalak.  Mereka benar-benar membutuhkan sentuhan ini. Jika kita menutup diri dari mereka, lalu bagaimana pertanggungjawaban kita nanti?

Share pengalaman, namun pengalaman ini tidak untuk ditiru. Sekali lagi TIDAK UNTUK DITIRU! Pengalaman ini terinspirasi oleh sebuah novel yang di dalamnya diceritakan ada seorang akhwat yang berani pacaran dengan salah satu pemain basket idaman di sekolahnya. Banyak kecaman, namun itu dia lakukan semata-mata untuk mengetahui sejauh mana mereka membutuhkan sentuhan 'ajakan' dari kita. Namun, disana diceritakan selama dia menjalani hubungan itu dia tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang, karena dia sudah paham apa yang harus dia lakukan.

Lanjut pada share pengalaman: Bermula dari sering berbincang dan berdiskusi. Berlanjut dengan menirukan sedikit bahasa yang biasa mereka gunakan, termasuk intonasi dan nada bicara. Dari pendekatan ini, mereka bisa menerimaku. Cara menyampaikan sentuhan ajakan tidak bisa langsung frontal memang, perlahan tapi pasti. Harus rela tidak sholat di awal waktu demi bisa mengajak mereka sholat berjamaah denganku. Berlanjut dengan 'cangkruk-cangkruk' yang awalnya akan membuat orang-orang yang tidak biasa 'cangkruk'an merasa sangat tidak betah, termasuk aku. Namun, harus dipaksa untuk betah. Dari 'cangkruk' an itu muncul diskusi-diskusi yang berhubungan dengan mengenal islam, Rasul, dan Allah lebih dalam. Karena disana ada aku yang mereka kenal sebagai salah satu anak kajian, maka secara otomatis orang yang dijadikan sebagai rujukan adalah aku. Coba bayangkan ketika tidak ada aku atau kita disana, siapa yang akan jadi rujukan? Aku yakin diskusi tidak akan terarah karena mereka hanya akan menerka-nerka dengan kata 'mungkin'. Berlanjut dengan ikut menyalakan rokok (*ingat ini BUKAN UNTUK DITIRU). Sebuah strategi hanya dengan menyalakannya saja tanpa menghirupnya lagi setelah itu. Membiarkan mereka melihat bahwa aku sama dengan mereka. Maka, dengan gamblangnya mereka bercerita dan membuka situs-situs dewasa. Alibi yang mereka keluarkan adalah itu mereka lakukan dalam rangka untuk belajar. Semakin lama semakin dalam. Hingga suatu malam, aku datang ke suatu tempat dimana mereka biasa berkumpul. Aku melihat ada segelas minuman seperti air teh. Awalnya aku memang mengira itu air teh, tapi aku merasa aneh karena ada busa yang cukup banyak di atasnya. Setelah sekian menit, minuman itu digilir. Setelah habis, ada salah satu orang yang mengeluarkan botol. Ternyata yang aku lihat tadi memang bukan teh, melainkan minuman keras. Mungkin masih banyak yang telah mereka lakukan selain yang sudah aku tahu. Semoga Allah senantiasa memantapkan langkah kaki kita pada jalan-Nya yang lurus, dan memberikan kekuatan kita untuk tetap melanjutkan 'ajakan' kita kepada semua orang yang ada di sekitar kita. aamiin... 

Sekali lagi pertanyaan yang aku tanyakan pada kawan-kawan aktivis dakwah. Tugas siapa kah itu? Tanggung jawab siapa kah itu?

Jika kawan-kawan masih bingung, siapa yang aku maksud dengan kata 'mereka', maka aku jawab 'mereka' adalah orang-orang yang belum berada di sekitar kita saat kita mentoring, saat kita melakukan kajian, saat kita sholat berjamaah. 'mereka' adalah orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman kita yang biasa 'cangkruk'. 'mereka' adalah orang-orang yang terjerumus pada hedonisme. Yuk, perluas 'ajakan' kita. Banyak sekali orang-orang yang membutuhkan sentuhan itu. Bismillah....

Selasa, 21 Februari 2012

Semua Akan Dibayar LUNAS!

Ya Allah... memang benar aku sudah terlalu 'sibuk'... sampai-sampai untuk menghafal dan belajar lebih dalam firman-Mu saja aku bingung kelabakan mencari waktu... Astaghfirullah..

Al-hasil: Setiap kali laporan selalu saja muncul dag dig dug gak karuan karena belum hafal,.., hiiyyyaaa... Apalagi kalo sudah tau ketinggalan sama yang lain. Mak deg jleb...

Aku tau Engkau sudah memberikan aku karunia otak yang cerdas. Tapi, lagi-lagi karena aku terlalu 'sibuk' sehingga tak ku manfaatkan itu dengan sebaik-baiknya.

Ya Allah, aku ingin sekali menyalahkan makhluk-Mu yang bernama syetan, tapi... gak lucu banget kan kalo udah kayak gini aja nyalahin mereka, padahal ini karena memang aku yang memilih mau-mau saja dibodohi oleh mereka.

Ya Allah, Mudahkanlah... Lapangkanlah... Ajarkan aku agar aku bisa BERSYUKUR lebih baik daripada hari ini dan sebelumnya... Bersyukur dengan memaksimalkan segala sesuatu yang sudah Engkau karuniakan kepadaku Ya Rabb...

Jika memang banyak sekali batu sandungan disana dan disini, maka bukakanlah MATA hati ini sehingga bisa senantiasa menghindari setiap batu yang menjadi penghalang itu.

Jauhkanlah aku dari sifat kufur dan takabur di saat Engkau memberikan kemudahan di setiap langkah ini.

Ya Allah, walaupun ini susah, walaupun ini akan membuatku payah, bantulah aku Ya Rabb, kuatkan aku... hingga aku kembali kepada-Mu. Kembali dengan sebuah senyuman dariku dan dari-Mu... Lalu aku memberikan kertas setoran hafalanku kepada-Mu dan Engkau memberiku sebuah penghargaan karenanya. Penghargaan yang sama dengan orang-orang yang lebih dulu menghafal Al-Qur'an. Penghargaan yang sama terhadap orang-orang yang juga berusaha menghafalkan Al-Qur'an.

Atas kemurniannya yang selalu terjaga, atas mukjizat yang telah dibuktikannya, atas ilmu yang telah tertulis di dalamnya... Terima kasih Ya Rabb Engkau memberikan petunjuk ini bagi kami...

Yang aku yakini hingga detik ini, bahkan hingga mati: semua perjuangan dan susah payah pasti akan dibayar LUNAS oleh-Mu kelak... ^^b

"STEMPEL" spesial dari Allah:

Rabu, 15 Februari 2012

Istimewanya Jari Manis

PRAKTIKUM SINGKAT, Buktikan!!!
1. Satukan kedua tangan (menggenggam satu sama lain)
2. Tes pertama, Satukan ibu jari kanan dan kiri, lalu gerakkn memisah (kanan k kanan,kiri ke kiri) bisa?
3. Satukan
 telunjuk, lakukan hal yg sama dg sebelumnya, bisa?

4. Satukan jari tengah, lakukan hal yg sama, bisa?
5. Satukan kelingking, lakukan hal yg sama, bisa?

6. Satukan jari manis, lakukan hal yg sama, bisa?
-->dr kelima praktikum di atas yg jwbanx tidak bisa pasti hanya no.6...itulah alasan mengapa cincin pernikahan dpakai d jari manis, sbg simbol harapan cinta yg abadi krn Allah ^^



contoh peragaan tangan

Selamat Mencoba

Thanks for this inspiration Mpok Ipeh (Rizfa Amalia - Sastra Arab UI 2008)

Ghasab Berjama'ah

Sebuah fenomena menarik ketika ada kejadian ini. Tapi sebelumnya, Ghasab itu apa sih? Gak usah rempong alias repot dah... Ghasab itu meminjam sesuatu milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Sederhananya begitu, walaupun banyak sekali definisi-definisi ghasab yang lebih kompleks/berat. Mudah-mudah an bisa lebih ringan dengan aku bahasakan demikian. Terus boleh gak? Hematnya, gak boleh. Lho koq bisa, Sama ya dengan mencuri? Beda... kalo mencuri barangnya gak dikembalikan lagi, kalo ghasab kan pinjam tanpa izin, jadi yo dibalikin. Yo gak dosa dunk??? Tetap dosa lah, apalagi kalo si yang punya gak rela... hayoo??? *ups..iya.ya...

Back to the topic, Ghasab koq berjamaah? iya... hal ini bisa terjadi ketika kita berkumpul dalam satu kontrak, satu asrama, satu kos. Caranya? Langsung saja di studi kasus. Misal aku nih ngontrak bareng temen-temen. Terus aku mau keluar untuk beli makan. Karena males cari sandalku di rak, aku pake sandal si A yang sudah ada di depan pintu. Nah, sebelum aku balik ternyata si A ada perlu mau nganterin tugas ke kos an temennya. Dia cari sandalnya gak ada. Karena terburu-buru, dia pake sandal B yang juga ada di depan pintu. Ketika si A pergi, si B juga mau pergi. Sama dengan aku dan si A, si B akhirnya pake sandalnya si C. Begitu seterusnya. Hingga giliran Z, dia mau pergi ke masjid. Eh, ternyata sandalnya sudah gak ada. Karena dia punya prinsip tidak mau ghasab, akhirnya dia pergi ke masjid tanpa sandal alias NYEKER MEN... (sebentar sebelum diteruskan, kontrak an e luassss banget yo? yang ngontrak dari A-Z e... haha, gak apa yang penting esensinya)

Kalo sudah gitu kan ghasab berjama'ah namanya. Lalu, kalo si Z marah, dia gak rela, karena merasa didzolimi, akhirnya dia berdoa karena salah satu doa yang mustajab adalah doanya orang yg didzolimi. Kalo si Z berdoa mendapat istri yang sholehah dan bisa menjadi bidadarinya di dunia dan di surga gitu gak apa, lha kalo dia mendoakan yang ngambil sandalnya dengan doa yg buruk gimana? na'udzubillah...

oleh karena itu,,,kawan-kawan yang masih terbiasa... apapun itu, sandal lah, penghapus lah, pulpen lah, alat mandi lah, dsb... terutama yang ngontrak, ng'kos, atau asrama perlu waspada akan bahaya ghasab dan penyakit ghasab berjama'ah ini. Masak iya, harus merantai sandal segala agar tidak dighasab? hehehe
oya termasuk kalo kita nemu barang yang bukan milik kita tiba-tiba nyasar di kamar, misal: ada baju atau laptop temen yg ketinggalan di kamar kita, yo ojok langsung dipake rek,,,tapi langsung dikembalikan, kalo emank mau pinjam ya izin dulu.. begitu masbro n mbaksist...

sebuah penggalan hadist shahih yang diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dari shahabat Anas ibnu Malik -ra- “laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba liakhiihi maa yuhibbu linafsihi” yang artinya kurang lebih “Belum benar-benar beriman salah seorang diantara kamu sampai dia mampu mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu untuk dirinya sendiri”. Nah, kalo sudah tahu begitu... masak mau menciderai 'cinta' hanya dengan ghasab? inti nya kalo tidak mau dicurangi, dighasab i, ya gak boleh curang dan ghasab juga dunk.

Menurut surat An-Nisa:29 --> "Hai orang-orang yang beriman, janglah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu, Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

Sepenggal hadist lagi, *semoga tidak salah mengambil hadist
“Harta seorang muslim haram dipergunakan oleh muslim lainnya, tanpa kerelaan hati pemiliknya" (HR.Daruquthni dari Anas bin Malik)

oke..semoga bisa menjadi cermin untuk kita bercermin pada diri kita. Semoga bermanfaat.

Realisasi Resholusi 2012

HASIL DARI POST TANGGAL 19 Desember 2011 ini....

1. Proposal Bisnis Plan terlaksana
    Beberapa bulan lalu dapat modal, namun masih belum berani ambil karena masih ragu dalam menjalankan ide bisnis yang ada disana. Deadline 31 Desember 2011 proposal kelar dan 1 Januari 2012 bisa running.
--> realisasi: tertunda hingga waktu yang tidak ditentukan

2. IP >= 3,5
    4 semester sebelumnya masih di bawah standar, IP semester 5 dan 6 minimal harus 3,5. Sengaja gak matok lebih tinggi karena ini bukan fokus utamanya, hehehe
--> realisasi: IP semester 5 = 3,05

3. NOW mendapat 25 partner kerja
    Perapian dan penyusunan pondasi awal memang sungguh berat, namun perjalanan yang diiringi semangat serta positif thinking akan memudahkan dalam peraihan hal-hal yang diinginkan. Ini adalah hobiku dan bisnisku. Go!

4. ITC punya banyak project
    Awal yang baik di tahun 2011, tinggal istiqomah dan melewati masa-masa kritis dalam cobaan komitmen.

5. TRB 1 dapat nilai A
    Tugas besar satu ini, hmmm.....seriusaaan...
--> realisasi: nilai TRB1 = AB

6. Kerja Praktek di Jakarta
    Mencari orang dan pengalaman yang mencerahkan...hehehe

7. TRB 2 juga dapat A

8. Himatekla punya desa binaan yang 'terbina'
    Selama perjalanan susah memang, perjalanan dari satu desa ke desa yang lain, semoga di desa kali ini kami himatekla menemukan jodohnya, Ya Rabb mudahkan kami dalam memberikan kontribusi.
--> realisasi: on progress

9. OCEANO 2012 menguntungkan semua pihak
    Kalo kemarin defisit, tahun ini harus surplus. Kalo kemarin ROV menggebrak, tahun ini mengguncang nasional. Kalo kemarin mencari, pasca tahun ini OCEANO dicari.

10. L-29 lahir dengan kondisi terbaiknya
      Proses pengaderan yang penuh canda tawa, penuh air mata, penuh kenangan, penuh cinta, penuh arti, penuh harapan, penuh doa, penuh cita-cita... Ridhoi lah RabbQ...
--> tanggal 26 Februari 2012 mereka kami sambut secara resmi di air terjun Ndlundung, Trawas, Mojokerto

11. LPJ Himatekla 11.12 SUKSES dan berbekas penuh makna

12. Perubahan nuansa di jurusan tercinta
      Speechless... Mewarnai tanpa harus terwarnai...

13. Kader Bahrul 'Ilmi meningkat 2x lipat
      Wah, kalo ini sumber kekuatan utama ini... bismillah...

14. Hafal juz 29-30



16. Sekolah Peradaban
      Sekolah Peradaban kembali berjalan dengan berjuta harapan dan impian. Di tangan kita masa depan bangsa!
--> realisasi: on progress

17. Bisa ngontrak rumah sendiri

18. Menikah
      Ada yang bilang terlalu cepat, ada yang bilang terburu-buru, ada yang bilang hanya bualan, ada yang bilang gak mungkin, ada pula yang bilang pasti bisa diwujudkan... Wallohua'lam... ibu sudah mengizinkan, dan bapak juga [walaupun hanya lewat mimpi bertemu bapak]. Semoga diberikan kondisi dan keadaan yang terbaik.

19. Selesai menulis 1 buku
      Walaupun berat, namun tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

20. Ikut LKMM TL
      impian untuk menjadi alumni LKMM sudah di depan mata.

21. kuasai Autopipe
      software yang mungkin sangat diperlukan nantinya..

22. Donatur Patriot
      Patriot yang jalannya sangat panjang, somoga dapat bertahan.
--> realisasi: alhamdulillah... semoga tahun berikutnya bisa lagi

23. Mengadakan pelatihan character building di Nganjuk
      Ayo kontribusi nyata pada kota kita...

24. Bikin Karya Tulis
      Ini ni yang cukup berat dalam hidup, menulis karya ilmiah bagaikan menulis di atas batuan yang keras dengan menggunakan lidi. *ah lebay.. bismillah...

25. Ikut pelatihan dan sertifikasi hypnosis

26. Ikut pelatihan kemenpora RI (lagi)

27. Punya koleksi 30 buku pribadi
--> sekarang sudah 9 buku

28. Membaca 20 buku
      Pasti maksa, tapi ini harus.. ^^b

29. Bertemu dan berkomunikasi dengan 5 tokoh nasional

30. Menguasai minimal 1 bahasa asing.

31. 3 besar MAWAPRES Jurusan
--> realisasi: alhamdulillah mawapres 3 jurusan

32. FIM
      Biar tambah maknyus pelatihannya ikut an ini juga ah...


*Wah..masih mikir lagi lainnya... hehehe

Sabtu, 11 Februari 2012

Untaian Doa di dalam Jiwa

semoga Allah menjaga hatiku dan hatinya untuk tetap berjalan di jalan-Nya...
sungguh tiada yang mengetahui dunia beserta isinya lebih baik daripada Engkau ya Rabb...
jika dia memang merasa apa yang aku rasa, semoga Engkau memunculkan keyakinan dalam hatinya bahwa aku akan menjemputnya, layaknya keyakinan yang sekarang juga sedang aku mantapkan...

*dari kejauhan ada yang "ehm! ehm!" --> dasar anak muda --> tapi boleh juga doanya, gak ada yang salah dengan doa dan harapan itu... =D
 
 
Blogger Templates