Social Icons

Jumat, 27 Juli 2012

Berkendara feat Muraja'ah






Sebuah pertanyaan dulu sebelum lanjut membaca tulisan ini, saya ingin bertanya beberapa hal:

.Sudahkah membaca Al-Qur'an hari ini?
.Sudahkah menambah hafalan Anda hari ini?
.Sudahkah membaca terjemah Al-Qur'an hari ini?
.Sudahkah mentadaburi Al-Qur'an hari ini?

Yah, pertanyaan itu muncul karena saya akan berbicara tentang Al-Qur'an dan muraja’ah (mengulang kembali-hafalan-Al-Qur’an). Wah, pasti berat nih bahasannya. So, siapkan dulu mental dan fisik Anda sebelum membaca ini sampai selesai (huh, apaan sih?). Tenang, insya Allah bacaan yang ringan koq, karena status di atas bisa kita maknai dengan sederhana dan simple, se-simpel hubungan loe sama gua. Hha

OK, saya ingin bertanya lagi, apa yang biasanya kawan-kawan lakukan saat ada waktu luang? Misal: nunggu teman, nunggu jemputan, nunggu berkas yang harus ditandatangani, *upss… termasuk ketika nyetir motor/mobil. Nah, kita bahas salah satu aja dah. Seringkali ketika kita nyetir motor/mobil, kita menghibur diri dengan nyanyi-nyanyi, melamun, atau meng-galau geje. Seru sih, tapi tahukah kawan ada yang gak kalah seru namun manfaatnya juga pasti dijamin jauh lebih seru? Bayangkan jika kita berkendara (ntah berkendara dengan kendaraan yang setirnya lurus atau kendaraan yang setirnya bunder) lalu kita membasahi lidah kita dengan lantunan ayat-ayat Allah. It's the real 'multitasking'! 

Kita tahu sendiri bagaimana keutamaan membaca Al-Qur'an. Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Selain itu, sesuai dengan lagu obat hati yang seringkali kita dendangkan. Bukankan salah satu obat hati adalah membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya? Jadi, pas banget tuh buat loe-loe yang lagi galau, ntah galau cinTA atau galau TA. Daripada pelampiasannya kebut-kebutan di jalan, teriak-teriak gak jelas sepanjang jalan, mending kan baca Al-Qur’an. Dijamin, maknyesss segerrr… ^^

Nah, sekarang  yuk coba kita bandingkan. Ketika kawan-kawan berkendara sambil bernyanyi, kawan-kawan dapat apa saja? Mentok jedhok natap tembok itu juga buat senang hati doank, tapi senangnya bukan kesenangan hakiki, jelas itu. Karena kesenangan yang hakiki itu hanya bisa didapat dari Allah dan dengan cara yang diajarkan Allah dan Rasulullah.

Eittss…tidak perlu banyak cing-cong ini-itu. Sudah jelas dan mutlak bahwasanya membaca Al-Qur'an itu lebih baik dari hanya sekedar menyanyi, apalagi melamun dan mengalau geje.

Oke, sekarang pasti ada yang bertanya atau bergeming. Itu hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya hafalan. Saya jawab: "Ya makanya, biar bisa begitu, kawan-kawan juga harus mau menghafal!" Jika kawan-kawan mengatakan susah, tuh banyak orang-orang yang belajar dan menghafal Al-Qur'an, nyatanya mereka juga bisa. Kalo tidak percaya, pergi aja ke Masjid Manarul ‘Ilmi, masjidnya orang ITS. Disana kawan-kawan akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang sedang sibuk. Bukan sibuk ngurus anak atau sibuk yang lain, mereka sedang sibuk menghafal atau setoran hafalan Al-Qur’an. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun juga. Ada segerombolan anak-anak kecil (SD-SMP) yang mereka tadarus Al-Qur’an, cuman tadarusnya beda, mereka tadarus tanpa membaca Al-Qur’an. Nah, terus gimana dunk? Mereka membaca hafalan yang sudah mereka punya. Nice, kalo mereka bisa, pasti kita juga bisa. Sama-sama makan nasi. Dan…. Masak kalah sama anak-anak?? ^^v

Gengsi mamen.... Makan tuh gengsi! haha... Demi kebaikan sendiri koq gengsi. 

So, finally... Gak ada salahnya koq menghafal Al-Qur'an. Kalo gak sekarang, kapan lagi? Mumpung pas ketemu bulan Ramadhan, bulannya Al-Qur'an, bulan menuju kemenangan. Lalu, praktekkan tuh…mengisi semua waktu luang kita dengan Al-Qur’an. Siapa tau kan pas lagi asyik-asyik baca/muraja’ah Al-Qur’an, eh malaikat Izra’il datang. Nah, insya Allah Surga itu, aamiin…

Yuk kita sambut cinta dan ridho-Nya Allah kepada kita. (Lhoh, koq sambut? Iya karena memang "default"-nya Allah mencintai kita, tinggal kita mau menyambut cintanya Allah itu atau tidak). ^^
Wallohua'lam bishowab... 

Jumat, 06 Juli 2012

Bertahan Di Sana (bebas memaknai karya)

Setiap manusia jelas sudah dipersiapkan Allah tentang jodohnya. Termasuk masing-masing dari kita. Pertanyaannya adalah 'siapa'?

Seseorang yang sudah tertulis di Lauhl-Mahfudz, namun kita tidak akan pernah tahu siapakah dia, hingga Allah mempertemukannya dengan kita. Yang jelas, kita harus mempersiapkan diri untuk menjemputnya. Mempersiapkan niat dalam hati, mempersiapkan visi, mempersiapkan bekal untuk dia dan anak-anak kita nanti. Terlepas persiapan itu harus dilakukan di tempat yang jauh, dalam waktu yang lama, dan memerlukan usaha yang begitu besar dan berat. 


"Tunggulah aku wahai bidadari yang sudah dipersiapkan Allah untukku, aku akan mempersiapkan diri untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat nanti. Mempersiapkan keluarga yang siap menghamba dan mengabdi kepada ilahi. Aku yakin perbaikan diriku juga engkau imbangi dengan perbaikan dirimu disana. Sampai jumpa di sebuah tempat dan waktu terindah untuk menggenapkan separuh agama kita, lalu bersama-sama kita menguatkannya...."



Dinda apa kabar kau di sana

Lelahkah menungguku berkelana
Lelahkah menungguku kau di sana


Sayang, aku kan segera pulang

Tunggu aku dengan senyuman itu
Tunggu aku dengan senyummu itu


Bila waktu itu telah tiba

Coba kenakanlah mahkota itu
Coba kenakanlah mahkota itu
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/s/sheila_on_7/bertahan_di_sana.html ]
Masih banyak yang harus ku cari
Tuk bahagiakan hidupmu nanti


Bisa bertahankah kau di sana

Bisa bertahankah sayang
Coba bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


Bisa bertahankah kau di sana

Bisa bertahankah sayang
Coba bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


Coba bertahanlah

Bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


       (Sheila on 7)

-bebas memaknai karya-

Sabtu, 30 Juni 2012

Janji Kader Himatekla

Kami, kader-kader Himatekla berjanji:

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bersumber kepada-Nya
  2. Melaksanakan peran dan fungsi mahasiswa sebagai pengabdian terhadap bangsa
  3. Memupuk solidaritas dan menjaga semangat kekeluargaan dalam Himatekla
  4. Mempertinggi prestasi untuk membangun kemaritiman Indonesia
  5. Menjaga nama baik Himatekla, ITS, dan Indonesia
*(ini adalah usulan pribadi yang belum pernah disampaikan, hehe)

Minggu, 10 Juni 2012

Hidup dan Mati Kami Ada di Genggaman-Mu Ya Rabb

bismillah...

Selasa, 5 Juni 2012 tidak pernah terpikir olehku akan mengalami kejadian yang cukup banyak diambil hikmahnya. Pagi di hari Selasa itu aku ditelpon ibu, saling bertanya kabar dan terjadi sedikit percakapan tentang tanggal 6 Juni, sebuah tanggal dimana aku pertama kali menghirup udara dan indahnya dunia ini.

Siang harinya aku beranjak ke kampus, masih santai belum terpikir apapun. Hanya saja aku teringat hari itu aku harus pergi mengajar les privat di daerah Semolowaru Elok. Yah... aku lekatkan di ingatanku jam 17.00 aku harus sudah di rumah adik lesku untuk belajar. Sembari menunggu jam 5 sore, aku pergi ke jurusan sebelah untuk sekedar menyapa dan melihat kampanye calon ketua himpunan.

Di tengah-tengah riuh kampanye calon ketua himpunan tetangga, aku melihat jam di handphone: 16.47, sudah harus berangkat. Aku bergegas pergi ke parkir jurusan untuk mengambil motor dan segera pergi ke rumah adik lesku. Di tengah jalan, ada sms masuk. Dari ibu adik yang aku ajar. "Mas, jadi bisa ngajar?" Tangan kiriku segera mengetik balasan, "Iya bu, ini sedang di jalan"

Sampai di rumah tempat aku mengajar, ternyata rumah sepi, hanya terlihat 2 orang anak di dalam. 3 kali aku mengucap salam dan mengetuk pintu gerbang dengan kontak motorku. Tidak lama kemudian muncul adik yang akan aku ajar, Fadhil. Dia kelas 2 SMP, namun dia berbeda dengan teman-teman seumuran dia yang lain. Dia cenderung diam dan penakut. Ibu nya pernah bercerita bahwa si Fadhil memang demikian, 'berbeda' dengan yang lain sehingga aku harus memberikan perlakuan khusus padanya. Namun, spesialnya anak ini, dia berbakat dalam hal bermusik. Sekali mendengar sebuah lagu, dia bisa langsung menebak chord dari musik itu, tanpa sedikit pun memegang alat musik. Dan uniknya tebakannya itu BENAR.

Langsung aku masuk ke dalam rumah setelah dia mempersilakan, dan seperti biasa kami langsung naik ke lantai 2 rumah itu. Di lantai 2 ada studio musik ukuran 3x5 meter tempat kami les. Sebelum masuk ke studio musik itu ada sebuah ruangan sebagai tempat menyetrika dan menyimpan pakaian, sekaligus sebagai 'gudang'. Untuk naik ke lantai 2 kami harus menaiki tangga yang sangat sempit, tidak lebih dari 50 cm. Ibarat pakaian, tangga itu adalah pakaian yang press body.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja aku mengajar, sudah terdengar adzan maghrib. Yah, setelah aku memberikan sedikit materi tambahan dan latihan soal, aku izin ke Fadhil untuk pergi sholat terlebih dahulu. Biasanya setelah aku sholat, Fadhil gantian sholat sedangkan aku mengoreksi hasil pekerjaannya. *sebenarnya ingin sekali aku mengajak dia untuk sholat jama'ah, namun  apa daya, tempatnya tidak ada. Tempat sholat di rumah itu hanya sebuah papan seluas sajadah lebih luas sedikit.

Usai kami sholat, tiba-tiba lampu mati. Bukan karena pemadaman, tapi karena 'listriknya tidak kuat', bahasa kerennya "njegleg". Setelah itu dinyalakan lagi (sama adik yang paling kecil yang berada di lantai 1), tapi njegleg lagi. Seingatku hingga 3 atau 4 kali seperti itu. Hingga yang terakhir lama sekali tidak menyala lagi. Akhirnya aku minta Fadhil untuk melihat adiknya. Barangkali ada yang perlu dibantu. Namun, saat dia membuka pintu studio dia tersentak hingga tubuhnya mundur sambil berteriak.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.... api Mas api... !!!"

Seketika aku berdiri dan membuka pintu. Seperti yang dilihat Fadhil, ada api yang sudah sangat besar memakan habis ruangan tempat menyimpan baju-baju itu. Suara gemuruh api dan angin menjadi satu membuat suasana panas itu menjadi semakin panas. Api yang memakan kayu-kayu dan benda yang ada disana terdengar seperti pepohonan yang akan roboh. Semakin lama semakin keras terdengar. Aku tutup lagi pintu itu hanya sekedar untuk memperlambat jalannya api masuk ke dalam ruangan studio musik. Perasaanku tidak karuan waktu itu. Namun ada satu hal yang sedikit membuatku lebih tenang. Istighfar yang senantiasa keluar dari bibir Fadhil.

Aku mencoba membuka pintu itu lagi untuk mencari celah, mungkin masih ada yang bisa digunakan untuk jalan lari. Dan... menurutku ada! Harapan itu muncul, aku gandeng tangan Fadhil. Tanpa aku lihat wajahnya, aku bertanya padanya.

"Dek, kamu bisa lari?"
"Ndak tau mas....."  Jawabnya ragu.

Mengetahui dia ragu, aku mengurungkan niatku untuk lari. Aku berpikir dua kali. Resikonya juga besar. Kalo nanti jatuh dari tangga bagaimana? Kalo nanti Ada balok kayu yang terbakar jatuh bagaimana? Namun, kalo tidak lari mau lewat mana lagi?

Pikiranku terus berkecamuk.Ditambah lagi, suara adik Fadhil yang berteriak di bawah terdengar semakin lama semakin keras.

"Tolong, tolong, tolong!!! Mas Fadhil, mas Fadhil....!!!"

Terlintas di pikiranku, jika aku bertindak sesuai prosedur keselamatan dalam sebuah musibah, maka aku harus menyelamatkan diri terlebih dahulu. Itu artinya aku harus meninggalkan Fadhil sendirian. Tapi... aku tidak bisa!!!

Kembali aku tutup lagi pintu itu. Sebentar kemudian aku buka lagi, kali ini aku ingin mencari celah kedua. Berharap api sudah semakin kecil. Namun sebaliknya, saat aku membuka pintu justru asap hitam masuk ke dalam studio. Membuat ruangan yang gelap tanpa ventilasi itu semakin pengap dan sesak. Aku mengajak Fadhil ke pojok studio menjauhi daerah yang sudah termakan api.

Aku tak pernah melepas gandengan tanganku ke lengan Fadhil. Sejumlah bayangan berkeliaran di otakku.

....Nanti kalo benar-benar sudah tidak bisa apa-apa, aku akan dekap Fadhil, aku gunakan tubuhku untuk melindungi tubuhnya.
....Wajah ibu yang hanya memiliki aku saat ini, akankah menemui kabar tidak mengenakkan tepat tanggal 6 Juni?
....Akankah aku berakhir disini??
....Akankah kawan-kawanku besok akan mendengar kabar aku telah tiada???

Pikiran-pikiran itu semakin memenuhi ruangan di otakku. Hampir saja aku putus asa. Di penghujung keputusasaanku, aku melihat sebuah kaca buram yang digunakan untuk menambah cahaya dalam ruangan. Ketika melihat itu, lantas keluar pertanyaan dari mulutku dengan setengah sadar.

"Dek, ada pintu lain ndak?"
"Ada mas, tapi gak pernah di pake, di ujung sana."

Mendengar jawaban itu, bergegas semangatku pulih, ada secercah harapan di dalam ruangan itu. Aku mencari-cari di daerah yang dimaksud Fadhil. Rupanya sudah ditutup dengan lapisan kedap suara dalam studio. Sehingga aku harus membongkarnya. Pelan tapi pasti, aku menemukan gagang pintu itu. Aku tarik ternyata masih terhalang karpet. Aku bereskan karpet yang cukup tebal itu agar pintu bisa segera dibuka. Setelah berhasil terbuka ternyata masih ada satu pintu lagi. Pintu ini terkunci!!! Aku berusaha mendobraknya. Dobrakan pertama gagal. Kembali terlintas bahwa harusnya aku bisa dengan mudah membuka pintu itu, gunakan positive thinking dan lanjutkan dengan jurus karate. Ya, dobrakan kedua dengan sekali tendang, dan dengan seizin Allah, alhamdulillah...  Pintu terbuka. Aku melongok keluar, disambut atap rumah tetangga Fadhil. Segera aku bantu turun si Fadhil. Tetangganya membantu dari bawah.

Ketika akan turun, aku teringat ada sesuatu yang tertinggal. Tas, jaket, dan laptop ku tertinggal di studio. Segera aku lari kembali lewat atap rumah, lewat pintu yang sudah jebol, dan bergegas aku mencari dan mengambil barang-barangku. Allah masih berkenan memberikan aku kesempatan hidup. Aku berhasil lolos dari jebakan api itu. Tak selang beberapa lama setelah aku turun, api sudah masuk ke dalam studio.

Aku menunggu di bawah, menenangkan Fadhil dan adiknya sembari menunggu Ibu dan Bapaknya datang. Syukur alhamdulillah, ujian ini telah terlewati. Sepulang dari kejadian itu, mulutku seakan terkunci. Aku teringat dosa-dosa yang pernah aku perbuat. Aku malu! Allah saja masih mau menyelamatkanku di penghujung keputus-asaannku. Lalu dimana aku menempatkan Allah di hatiku selama ini? Ya... Hidup dan Matiku (serta kita semua) ada di genggaman-Nya. Tak pantas kita sombong, tak pantas kita membanggakan dan memuji diri sendiri.

Kita telihat baik, karena memang Allah masih belum membuka kehinaan kita. Semoga kita bisa menjadi lebih baik, karena kita mau berbenah dari segala kelemahan dan kekurangan kita.

Wallohu a'lam bishshowab...

                                          
                                                             foto rumah pasca kebakaran

Beritanya ada disini.

Selasa, 22 Mei 2012

Rindu Ramadhan



Bismillah...

Aroma Ramadhan sudah tercium lo... how about you?

Sekarang sudah bulan Rajab. Dulu para sahabat berdoa, "Ya Allah Ya Rabb, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan." Ingin tumpah rasanya nih air mata ketika membaca dan mengamalkan doa itu.

Betapa indahnya bulan itu,
Betapa sejuk hati di bulan itu,
Betapa banyak orang yang bersukur bisa menemui bulan itu,
Betapa sering Al-Qur'an dibaca semerdu-merdunya di bulan itu,

Bulan dimana Al-Qur'an dulu diturunkan,
Bulan dimana di dalamnya ada malam yang lebih baik dari 1000 bulan,
Bulan dimana Allah menutup pintu neraka serapat-rapatnya,
Bulan dimana Allah membuka pintu surga selebar-lebarnya,

Bagiku...
Ramadhan memiliki tempat tersendiri di hati...

.Ramadhan pernah menggoreskan tinta indah penuh kenangan bersama Tias, adikku. Berlomba memperbanyak bacaan Al-Qur'an, berlomba memperbanyak hafalan doa, berlomba memperbanyak kebaikan yang lainnya. Sekarang dia sudah kembali pada-Nya, semoga Engkau memberikan tempat terindah di sisi-Nya.
.Ramadhan juga bulan yang dipihkan oleh Allah untukku melakukan sebuah perubahan besar yang hingga detik ini aku bisa bertahan. Mempercayakan kepada-Nya 3 hal yang memang sudah menjadi bagian-Nya.
.Ramadhan punya banyak cerita. Cerita pondok Ramadhan ketika SD,SMP,dan SMA. Semua masih lekat kuat di benak. Ah, bagaimana rasanya berbagi, bagaimana rasanya ketika dapat kiriman buka puasa dari teman-teman saat pondok Ramadhan, bagaimana rasanya makan di satu tampah besar bareng kawan-kawan Majelis Ta'lim Nurul Iman, bagaimana rasanya menyiapkan buka bersama di Gempa Smada, cerita memperoleh banyak teman dan serasa dipersaudarakan lewat Kobar (buko bareng) di Manarul 'ilmi oleh kawan-kawan RDK.
.Ramadhan juga memberikan kesan tersendiri saat Dia memanggil bapak ke haribaan-Nya. Tepat di dalam lingkar tangan pelukanku, tepat saat aku membacakan surat-surat indah dari-Nya di dekat telinga beliau. Semoga Dia mengampunkan segala dosa beliau, menerima segala amal ibadah beliau, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Lebih daripada itu, Ramadhan memang punya kesan yang tak akan pernah habis diungkapkan dalam kata dan tulisan.

Semangat menyambut Ramadhan. Semangat menyambut kemenangan.
Prepare dari sekarang ya...

Terinspirasi dari para sahabat yang merindukan kedatangan Ramadhan dan bersedih ketika akan meninggalkan bulan Ramadhan. Semoga Engkau sampaikan kami pada bulan mulia-Mu itu ya Rabb...

Senin, 05 Maret 2012

Rabithah



Sesunguhnya Engkau tahu bahwa hati ini t'lah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu
Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syari'at dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya, kekalkan cintanya, tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyamu yang tiada pernah padam, ya Rabbi bimbinglah kami...
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakkal padamu
Hidupkan dengan ma'rifat-Mu, matikan dengan syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

Kamis, 01 Maret 2012

Strategi BERBAHAYA!


Memang terkadang kita harus mengalah untuk bisa mengerti mereka labih jauh...
Memang terkadang kita harus bersabar untuk bisa mengubah cara berpikir mereka...
Ini berbicara tentang sebuah pengorbanan untuk melancarkan sebuah kata, yaitu "ajakan"

Mungkin bagi beberapa aktivis dakwah, mereka sudah merasa cukup ketika mereka sudah menjaga mentoringnya. Atau sudah merasa cukup karena sudah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran pada 'teman-teman'nya saja. Padahal banyak sekali orang-orang yang masih membutuhkan sentuhan "ajakan" ini. Pada dasarnya mereka merindukan sebuah kedamaian batin, namun mereka tidak tahu apa yang bisa mendamaikan hati mereka. Ini tugas siapa? Ini tanggung jawab siapa?

Perlahan tapi pasti, kita menutup diri dari mereka. Secara tidak kita sadari kita meninggalkan mereka. Kita mempersholeh diri kita sendiri tanpa mempedulikan mereka. Kita berpikir mereka sudah menentukan pilihan hidupnya, padahal mereka masih mencari-cari jalan mana yang benar, jalan mana yang bisa mengantarkan mereka ke kedamaian sejati.

Aku terinspirasi dari salah satu kawan satu pesma yang bisa menjaga hubungan baik dengan mereka. Sosok yang memang bersahabat. Dapat berbagi dengan siapapun yang dia temui. Yang langsung menganggap 'sahabat' setiap orang yang pernah dia temui. Al-hasil, banyak orang yang kita anggap tidak bisa di'ajak' menjadi bisa di'ajak',mentoring dan sholat berjamaah misalnya. Bisa diajak untuk mengarungi jalan ini 'bersama'.

Ternyata benar, ketika kita mau terbuka dan sedikit mengikuti alur yang ada pada diri mereka, aku yakin kita akan terbelalak.  Mereka benar-benar membutuhkan sentuhan ini. Jika kita menutup diri dari mereka, lalu bagaimana pertanggungjawaban kita nanti?

Share pengalaman, namun pengalaman ini tidak untuk ditiru. Sekali lagi TIDAK UNTUK DITIRU! Pengalaman ini terinspirasi oleh sebuah novel yang di dalamnya diceritakan ada seorang akhwat yang berani pacaran dengan salah satu pemain basket idaman di sekolahnya. Banyak kecaman, namun itu dia lakukan semata-mata untuk mengetahui sejauh mana mereka membutuhkan sentuhan 'ajakan' dari kita. Namun, disana diceritakan selama dia menjalani hubungan itu dia tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang, karena dia sudah paham apa yang harus dia lakukan.

Lanjut pada share pengalaman: Bermula dari sering berbincang dan berdiskusi. Berlanjut dengan menirukan sedikit bahasa yang biasa mereka gunakan, termasuk intonasi dan nada bicara. Dari pendekatan ini, mereka bisa menerimaku. Cara menyampaikan sentuhan ajakan tidak bisa langsung frontal memang, perlahan tapi pasti. Harus rela tidak sholat di awal waktu demi bisa mengajak mereka sholat berjamaah denganku. Berlanjut dengan 'cangkruk-cangkruk' yang awalnya akan membuat orang-orang yang tidak biasa 'cangkruk'an merasa sangat tidak betah, termasuk aku. Namun, harus dipaksa untuk betah. Dari 'cangkruk' an itu muncul diskusi-diskusi yang berhubungan dengan mengenal islam, Rasul, dan Allah lebih dalam. Karena disana ada aku yang mereka kenal sebagai salah satu anak kajian, maka secara otomatis orang yang dijadikan sebagai rujukan adalah aku. Coba bayangkan ketika tidak ada aku atau kita disana, siapa yang akan jadi rujukan? Aku yakin diskusi tidak akan terarah karena mereka hanya akan menerka-nerka dengan kata 'mungkin'. Berlanjut dengan ikut menyalakan rokok (*ingat ini BUKAN UNTUK DITIRU). Sebuah strategi hanya dengan menyalakannya saja tanpa menghirupnya lagi setelah itu. Membiarkan mereka melihat bahwa aku sama dengan mereka. Maka, dengan gamblangnya mereka bercerita dan membuka situs-situs dewasa. Alibi yang mereka keluarkan adalah itu mereka lakukan dalam rangka untuk belajar. Semakin lama semakin dalam. Hingga suatu malam, aku datang ke suatu tempat dimana mereka biasa berkumpul. Aku melihat ada segelas minuman seperti air teh. Awalnya aku memang mengira itu air teh, tapi aku merasa aneh karena ada busa yang cukup banyak di atasnya. Setelah sekian menit, minuman itu digilir. Setelah habis, ada salah satu orang yang mengeluarkan botol. Ternyata yang aku lihat tadi memang bukan teh, melainkan minuman keras. Mungkin masih banyak yang telah mereka lakukan selain yang sudah aku tahu. Semoga Allah senantiasa memantapkan langkah kaki kita pada jalan-Nya yang lurus, dan memberikan kekuatan kita untuk tetap melanjutkan 'ajakan' kita kepada semua orang yang ada di sekitar kita. aamiin... 

Sekali lagi pertanyaan yang aku tanyakan pada kawan-kawan aktivis dakwah. Tugas siapa kah itu? Tanggung jawab siapa kah itu?

Jika kawan-kawan masih bingung, siapa yang aku maksud dengan kata 'mereka', maka aku jawab 'mereka' adalah orang-orang yang belum berada di sekitar kita saat kita mentoring, saat kita melakukan kajian, saat kita sholat berjamaah. 'mereka' adalah orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman kita yang biasa 'cangkruk'. 'mereka' adalah orang-orang yang terjerumus pada hedonisme. Yuk, perluas 'ajakan' kita. Banyak sekali orang-orang yang membutuhkan sentuhan itu. Bismillah....
 
 
Blogger Templates