Social Icons

Selasa, 08 Januari 2013

Di Balik "Rumah Sakit"

yah,,, sudah semakin lama tak memperhatikan blog ini, hmmm... entah aku yang memang sibuk, atau jangan2 aku sok sibuk ya? ^^v
sebenarnya ini waktunya aku harus belajar untuk UAS besok, ada beberapa tugas yang harus selesai pula... tapi tanganku sudah benar-benar gatal untuk segera menulis lagi disini. =D

bismillah...
sore ini benar-benar aku merasa "menganggur", padahal aku sedang berada di sekret BEM tercinta (ah, aku masih berusaha mencintainya). *anak BEM kok nganggur? #plak! Oh ya, baru saja laporan KP-ku dikembalikan dosen pembimibing dan disana terpampang jelas nilai AB. Bersyukur pake banget, bukan karena nilai AB nya, tapi karena akhirnya dikembalikan juga tuh laporan KP-ku, karena jika tidak aku sudah dapat WARNING buat ngulang KP, na'udzubillah min dzalik.. =D

Di tengah menganggur yang tak begitu mengenakkan itu, aku melihat anak-anak Hublu pergi, katanya mau ke rumah sakit, mau jenguk sekmen mereka yang lagi sakit. Tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk ikut, dan kakiku segera saja melompat untuk mengejar mereka. Aku merasa ada banyak hal yang aku dapat setelah aku mengunjungi temenku itu sebelumnya. Aku pengen dapat sensasi yang berbeda itu lagi di rumah sakit.

Simpel banget sih sensasinya, tapi gak sesimpel kita tidur pas kuliah berlangsung.. =P
aku merasa tiap detik waktu kita benar-benar berharga banget. Selama di rumah sakit, seolah waktu berjalan luuuaaaammbbbaaaaatttt pake banget. Air hujan, orang lalu lalang, dan lain-lainnya, semua seperti diberi efek slow motion. Angin sejuk yang jarang hadir di Surabaya menyapu wajah ini dengan begitu lembutnya, sekali lagi terasa lambat seperti diberikan efek slow motion. Yeah... aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit itu sendiri sembari merasakan itu semua. Bergegas menyusul anak-anak hublu yang sudah pergi lebih dahulu.

Tiba-tiba saja aku merasa, "kok jadi ketagihan gini ya ke rumah sakit?" Abisnya seru sih, sekali lagi ada sensasi yang berbeda. Aku pengen ceritain sih gimana sensasinya, tapi ntah kenapa aku gak menemukan kata-kata yang pas untuk menulis dan menggambarkannya. Dulu, aku sempat menjadikan rumah sakit sebagai salah satu tujuan ketika aku mau refreshing. Ntah karena banyak orang yang ceramah, mengatakan kalo mau bersyukur lebih pergi saja ke rumah sakit. Yak, itu benar! Itu salah satu yang aku dapatkan. Bagaimana tidak? ketika aku bisa berjalan menyusuri lorong dengan begitu tegap dan kuatnya, aku berpapasan dengan orang yang didorong di atas tempat tidur dengan kondisi yang tidak berdaya. Ketika aku bisa meraakan sapuan angin di wajahku saat itu, aku gak yakin mereka-mereka yang sakit beserta keluarganya juga merasakan hal yang sama. Belum cukupkah itu untuk membuat kita bersyukur? 

hmmm... tapi sepertinya bukan hanya karena aku bisa membuktikan ceramah itu saja. Aku punya rencana nanti ketika sudah punya anak, salah satu media untuk mendidik dia adalah dengan mengajaknya berkunjung ke rumah sakit. Satu pekan sekali kah, sebulan sekali kah, yang jelas aku pengen memberikan pelajaran berharga terbaik untuk mereka dengan merasakan sendiri melalui hati mereka. Itu kenapa aku pengen banget memasukkan list "rumah sakit" sebagai salah satu tujuan untuk refreshing. =D

Lanjut, tahukah kawan? Ada keunikan di ruangan kelas II dan III rumah sakit? Disana kita akan mendapat keluarga baru secara langsung lo... Hati dari keluarga si sakit seolah terikat satu sama lain dengan begitu kuat. Wallohua'lam, ntah karena merasa senasib sepenanggungan atau karena ada energi lain yang membuat mereka demikian. Toleransi muncul begitu saja di tengah-tengah mereka. Senyum-senyum terkembang tanpa sadar saat mata-mata yang indah ini saling bertatapan. Bahkan, perhatian-perhatian yang mungkin tidak pernah kita dapatkan di luar, disini akan kita dapatkan. Percakapan yang biasa muncul di tengah keluarga-keluarga si sakit:

  1. "Mas, sudah makan? Ayo makan bareng sama saya.." --> ini yang paling sering, bahkan kemarin waktu jenguk aku dapat 1 bungkus nasi pecel dari keluarga sebelah.
  2. "Bu, kalo capek tidur disini Bu... Karpet saya masih luas, daripada tidur sambil duduk begitu..."
  3. "Pak, kalo mau sholat, sholat saja.. biar si fulan saya saja yang menjaga, nanti bisa gantian."
  4. "Bagaimana kata dokter? tekanan darahnya sudah normal belum?"
  5. "Kalo tidak bisa minum obat tablet, mending ditumbuk saja, itu pinjam tumbukan di perawat tidak apa-apa."
  6. dan lain sebagainya.....

Ya, itulah yang akan terjadi secara alamiah di kelas II dan III. Perhatian yang begitu menyejukkan. Suatu wujud memanusiakan manusia yang sebenarnya.

Pernah diskusi dengan keluarga si sakit yang masih muda/anak-anak/remaja? Dimana dia tidak hanya menunggu saja, tapi juga sebagai titik inti dari keluarga si sakit, yang akan mengambil keputusan apapun yang akan diberikan pada si sakit? Jika kita bertemu dengan mereka, mereka lah orang-orang yang dituntut belajar lebih cepat. Akselerasi pola pikir, kedewasaan berpikir, dan kesiapan mental yang super kilat. Aku pun pernah mengalaminya saat bapak untuk yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya masuk rumah sakit. Benar-benar dituntut berpikir lebih ekstra, apalagi saat harus megetahui bahwa Allah sudah berkehendak lain dan memiliki rencana besar nan indah setelah beliau tiada, apapu itu. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya untuk bapak dan Tias. :)

Lanjut dah.. :) pernah sholat di mushola/masjid rumah sakit? Disana kita akan merasakan energi-energi positif yang begitu besar yang mungkin tidak akan kita dapatkan di mushola/masjid di tempat biasa. Serasa tenang, begitu khusyu', begitu sungguh-sungguh ketika disana. Bahkan, mungkin kita akan menemui orang yang dari penampilan "mungkin" terlihat begitu sok, tapi ketika sudah di dalam masjid mereka begitu tawadhu'. Tanya kenapa? =D

Pernah menemui orang yang sakaratul maut dan meninggal di rumash sakit. Nah, saat-saat seperti inilah yang membuat kita aka berpikir jaauuuuuhhh lebih dalam, bahwa setiap detik waktu kita begitu berharga. Kita akan berpikir sudah berbuat apa saja kita sebelumnya. Bagaimana jika setelah ini kita yang mendapatkan giliran seperti mereka? Nah kan, jadi mikiirr... =)

Itu beberapa hal saja sih, pengen nulis lagi, tapi teringat tugas dan UAS... hehehe

Mau ikut aku jalan-jalan ke rumah sakit? =D

Sabtu, 29 September 2012

Warna-Warni Kampusku

Suara kendaraan bermotor itu menderu, bising, memekakkan telinga. Barisan panjang dengan kumpulan warna serupa diiringi bendera-bendera besar bergambar logo-logo himpunan penuh wibawa. Yel-yel serta pekikan-pekikan semangat meluncur bagai roket dari lidah-lidah mereka, tak peduli seberapapun panasnya kota Surabaya. Sebuah euforia yang ditampilkan oleh mahasiswa-mahasiswa kampus pahlawan ini untuk menyambut para wisudawan yang tengah berbahagia. Mendapatkan sebuah gelar baru, mendapatkan amanah baru.

Banyak masyarakat yang menunggu kehadiran mereka. Bukan untuk memenuhi lapangan pekerjaan yang ada, atau menambah jumlah masyrakat Indonesia yang lulus dari bangku perguruan tinggi. Namun, kehadiran mereka dinantikan untuk memberikan sebuah perubahan. Setidaknya mereka diharapkan dapat menyalakan secercah cahaya di tengah-tengah kegelapan. Harapan seperti ini tidak hanya digantungkan pada mahasiswa yang sudah menyelesaikan studinya, namun juga mahasiswa-mahasiswa yang tengah menjalani masa perkuliahannya.

Mengingat begitu besar harapan-harapan masyarakat terhadap mahasiswa inilah yang membuat hati ini berlutut merenungkan segala hal yang terjadi. Di kampus ini ternyata ada sebuah hal yang menjadi masalah pelik. Perbedaan pandangan, perbedaan prinsip, perbedaan visi, dan perbedaan cara dalam mewujudkan sebuah visi. Perbedaan inilah yang kemudian menjadi sebuah senjata ampuh untuk memecah persatuan dan kesatuan antara mahasiswa satu dengan mahasiswa yang lainnya.

            Kampus pahlawan ini ibarat rumah sakit sekarang. Memiliki bangunan yang sangat megah dan indah, namun di dalamnya terdapat banyak sekali orang yang sakit dan lemah. Pernah suatu masa kampus ini memiliki masalah integralistik. Setiap jurusan ingin terlihat lebih menonjol dari jurusan yang lain. Setiap jurusan ingin dilihat sebagai jurusan terbaik bagi yang lain. Sehingga menjadi sebuah hal yang wajar ketika ada mahasiswa yang bermasalah dengan mahasiswa lainnya hanya karena mempertahankan sebuah ide, “jurusanku lah yang terbaik. Itu gambaran masa lalu, dan sekarang hal itu sudah mulai berubah. Namun, sangat disayangkan saat perubahan itu ada, masalah integralistik itu hampir hilang sama sekali, muncul masalah baru lagi yang mengancam keutuhan keluarga kampus ini.

“Jika ada rakyat yang mengadu kepada dewan perwakilannya, itu adalah hal yang wajar. Namun bagaimana mungkin ada anggota dewan yang mengadu kepada rakyatnya?”

Itu adalah ucapan yang keluar di sebuah forum beberapa waktu yang lalu. Ucapan yang penuh kekecewaan dari “rakyat” kepada dewan perwakilannya, dewan perwakilan mahasiswa (DPM). Hal itu disampaikan di muka umum pada saat forum transparasi terkait pembentukan KPU (komisi pemilihan umum) oleh DPM. Sebenarnya cukup panjang permasalahannya jika diruntut dari awal. Pada dasarnya DPM sudah melakukan prosedur pemilihan dengan benar, namun masih dipertanyakan proses pemilihannya oleh mahasiswa yang ada di jurusan. Jawaban DPM atas pertanyaan itulah yang membuat masalah itu muncul. Ketidakpercayaan.

Sepertinya sudah menjadi rahaisa umum bahwa sekarang sedang ada perang dingin di dalam keluarga mahasiswa ITS. Dipungkiri atau tidak, “golongan-golongan” itu ada. Ada merah, kuning, hijau, biru, putih, bahkkan ada golongan orang-orang yang tak bergolongan. Berkembang di setiap jurusan dan lembaga. Setiap golongan memiliki tujuan masing-masing. Setiap golongan punya keinginan masing-masing. Inilah yang kemudian menjadi masalah baru setelah masalah integralistik yang pernah terjadi di KM ITS. Dan inilah yang menjadi salah satu sebab terjadinya kasus DPM di atas. Sekali lagi, mau dipungkiri ataupun tidak.

Apakah ini adalah sebuah masalah yang besar? Ya! Jika dibiarkan seperti ini terus, maka sampai kapan KM ITS benar-benar akan bersatu? Memberikan kontribusi secara maksimal untuk masyarakat dan bangsa ini. Mungkin bagi beberapa pihak ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang konyol, namun apakah sudah ada yang bisa menjawab dan memberikan perubahan atas pertanyaan-pertanyaan ini? Sekali lagi, menjawab dan memberikan perubahan, bukan hanya menjawab tanpa ada tindakan untuk mengubahnya.

“Mewujudkan keluarga mahasiswa ITS yang mandiri, professional, demokratis, dan dinamis yang dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan YME, nilai kejuangan sepuluh nopember serta nilai kerakyatan dalam rangka mempelopori pengembangan Ilmu Pengetahuan, Seni dan Teknologibagi kesejahteraan masa depan almamater, masyarakat, dan bangsa.”
(visi KM ITS dalam Mubes IV pasal 7)

Tidakkah kita bisa duduk bersama untuk membuat gerakan yang lebih besar dan bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa? Tidakkah kita bisa melepaskan “jaket warna” kita sejenak untuk sebuah visi bersama? Bukankah akan lebih baik jika kita mau saling menghargai, saling memahami, dan saling melengkapi? Kedewasaan berpikir harus dibentuk dan diutamakan disini. Sulit? Memang. Tapi lebih baik segera kita nyalakan cahaya itu dalam kegelapan daripada kita hanya mengutuk kegelapan itu.
Kita patut yakin bahwa setiap mahasiswa memiliki visi yang luar biasa besar untuk bangsa ini. Begitu pula “golongan-golongan” yang ada. Hanya jalan dan cara yang ditempuh saja yang berbeda. Akankah lebih indah jika jalan yang diambil adalah jalan yang saling melengkapi? Konstruktif, bukan destruktif! Setelah itu mari kita rasakan perubahan itu di kampus ini, setelah itu mari kita berikan energi positif pada masyarakat dan bangsa ini. Kita jawab harapan masyarakat kepada kita saat kita bergelar sarjana dan mahasiswa. Bukan hanya euforia saat wisuda semata yang kita berikan, tapi kebermanfaatan yang bisa kita sampaikan.

"Lepaskan sementara “jaket warna”-mu jika sudah berbicara dan berjuang demi KM ITS yang satu!"

Jumat, 27 Juli 2012

Berkendara feat Muraja'ah






Sebuah pertanyaan dulu sebelum lanjut membaca tulisan ini, saya ingin bertanya beberapa hal:

.Sudahkah membaca Al-Qur'an hari ini?
.Sudahkah menambah hafalan Anda hari ini?
.Sudahkah membaca terjemah Al-Qur'an hari ini?
.Sudahkah mentadaburi Al-Qur'an hari ini?

Yah, pertanyaan itu muncul karena saya akan berbicara tentang Al-Qur'an dan muraja’ah (mengulang kembali-hafalan-Al-Qur’an). Wah, pasti berat nih bahasannya. So, siapkan dulu mental dan fisik Anda sebelum membaca ini sampai selesai (huh, apaan sih?). Tenang, insya Allah bacaan yang ringan koq, karena status di atas bisa kita maknai dengan sederhana dan simple, se-simpel hubungan loe sama gua. Hha

OK, saya ingin bertanya lagi, apa yang biasanya kawan-kawan lakukan saat ada waktu luang? Misal: nunggu teman, nunggu jemputan, nunggu berkas yang harus ditandatangani, *upss… termasuk ketika nyetir motor/mobil. Nah, kita bahas salah satu aja dah. Seringkali ketika kita nyetir motor/mobil, kita menghibur diri dengan nyanyi-nyanyi, melamun, atau meng-galau geje. Seru sih, tapi tahukah kawan ada yang gak kalah seru namun manfaatnya juga pasti dijamin jauh lebih seru? Bayangkan jika kita berkendara (ntah berkendara dengan kendaraan yang setirnya lurus atau kendaraan yang setirnya bunder) lalu kita membasahi lidah kita dengan lantunan ayat-ayat Allah. It's the real 'multitasking'! 

Kita tahu sendiri bagaimana keutamaan membaca Al-Qur'an. Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).

Selain itu, sesuai dengan lagu obat hati yang seringkali kita dendangkan. Bukankan salah satu obat hati adalah membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya? Jadi, pas banget tuh buat loe-loe yang lagi galau, ntah galau cinTA atau galau TA. Daripada pelampiasannya kebut-kebutan di jalan, teriak-teriak gak jelas sepanjang jalan, mending kan baca Al-Qur’an. Dijamin, maknyesss segerrr… ^^

Nah, sekarang  yuk coba kita bandingkan. Ketika kawan-kawan berkendara sambil bernyanyi, kawan-kawan dapat apa saja? Mentok jedhok natap tembok itu juga buat senang hati doank, tapi senangnya bukan kesenangan hakiki, jelas itu. Karena kesenangan yang hakiki itu hanya bisa didapat dari Allah dan dengan cara yang diajarkan Allah dan Rasulullah.

Eittss…tidak perlu banyak cing-cong ini-itu. Sudah jelas dan mutlak bahwasanya membaca Al-Qur'an itu lebih baik dari hanya sekedar menyanyi, apalagi melamun dan mengalau geje.

Oke, sekarang pasti ada yang bertanya atau bergeming. Itu hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya hafalan. Saya jawab: "Ya makanya, biar bisa begitu, kawan-kawan juga harus mau menghafal!" Jika kawan-kawan mengatakan susah, tuh banyak orang-orang yang belajar dan menghafal Al-Qur'an, nyatanya mereka juga bisa. Kalo tidak percaya, pergi aja ke Masjid Manarul ‘Ilmi, masjidnya orang ITS. Disana kawan-kawan akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang sedang sibuk. Bukan sibuk ngurus anak atau sibuk yang lain, mereka sedang sibuk menghafal atau setoran hafalan Al-Qur’an. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun juga. Ada segerombolan anak-anak kecil (SD-SMP) yang mereka tadarus Al-Qur’an, cuman tadarusnya beda, mereka tadarus tanpa membaca Al-Qur’an. Nah, terus gimana dunk? Mereka membaca hafalan yang sudah mereka punya. Nice, kalo mereka bisa, pasti kita juga bisa. Sama-sama makan nasi. Dan…. Masak kalah sama anak-anak?? ^^v

Gengsi mamen.... Makan tuh gengsi! haha... Demi kebaikan sendiri koq gengsi. 

So, finally... Gak ada salahnya koq menghafal Al-Qur'an. Kalo gak sekarang, kapan lagi? Mumpung pas ketemu bulan Ramadhan, bulannya Al-Qur'an, bulan menuju kemenangan. Lalu, praktekkan tuh…mengisi semua waktu luang kita dengan Al-Qur’an. Siapa tau kan pas lagi asyik-asyik baca/muraja’ah Al-Qur’an, eh malaikat Izra’il datang. Nah, insya Allah Surga itu, aamiin…

Yuk kita sambut cinta dan ridho-Nya Allah kepada kita. (Lhoh, koq sambut? Iya karena memang "default"-nya Allah mencintai kita, tinggal kita mau menyambut cintanya Allah itu atau tidak). ^^
Wallohua'lam bishowab... 

Jumat, 06 Juli 2012

Bertahan Di Sana (bebas memaknai karya)

Setiap manusia jelas sudah dipersiapkan Allah tentang jodohnya. Termasuk masing-masing dari kita. Pertanyaannya adalah 'siapa'?

Seseorang yang sudah tertulis di Lauhl-Mahfudz, namun kita tidak akan pernah tahu siapakah dia, hingga Allah mempertemukannya dengan kita. Yang jelas, kita harus mempersiapkan diri untuk menjemputnya. Mempersiapkan niat dalam hati, mempersiapkan visi, mempersiapkan bekal untuk dia dan anak-anak kita nanti. Terlepas persiapan itu harus dilakukan di tempat yang jauh, dalam waktu yang lama, dan memerlukan usaha yang begitu besar dan berat. 


"Tunggulah aku wahai bidadari yang sudah dipersiapkan Allah untukku, aku akan mempersiapkan diri untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat nanti. Mempersiapkan keluarga yang siap menghamba dan mengabdi kepada ilahi. Aku yakin perbaikan diriku juga engkau imbangi dengan perbaikan dirimu disana. Sampai jumpa di sebuah tempat dan waktu terindah untuk menggenapkan separuh agama kita, lalu bersama-sama kita menguatkannya...."



Dinda apa kabar kau di sana

Lelahkah menungguku berkelana
Lelahkah menungguku kau di sana


Sayang, aku kan segera pulang

Tunggu aku dengan senyuman itu
Tunggu aku dengan senyummu itu


Bila waktu itu telah tiba

Coba kenakanlah mahkota itu
Coba kenakanlah mahkota itu
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/s/sheila_on_7/bertahan_di_sana.html ]
Masih banyak yang harus ku cari
Tuk bahagiakan hidupmu nanti


Bisa bertahankah kau di sana

Bisa bertahankah sayang
Coba bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


Bisa bertahankah kau di sana

Bisa bertahankah sayang
Coba bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


Coba bertahanlah

Bertahanlah kau di sana
Coba bertahanlah sayang


       (Sheila on 7)

-bebas memaknai karya-

Sabtu, 30 Juni 2012

Janji Kader Himatekla

Kami, kader-kader Himatekla berjanji:

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bersumber kepada-Nya
  2. Melaksanakan peran dan fungsi mahasiswa sebagai pengabdian terhadap bangsa
  3. Memupuk solidaritas dan menjaga semangat kekeluargaan dalam Himatekla
  4. Mempertinggi prestasi untuk membangun kemaritiman Indonesia
  5. Menjaga nama baik Himatekla, ITS, dan Indonesia
*(ini adalah usulan pribadi yang belum pernah disampaikan, hehe)

Minggu, 10 Juni 2012

Hidup dan Mati Kami Ada di Genggaman-Mu Ya Rabb

bismillah...

Selasa, 5 Juni 2012 tidak pernah terpikir olehku akan mengalami kejadian yang cukup banyak diambil hikmahnya. Pagi di hari Selasa itu aku ditelpon ibu, saling bertanya kabar dan terjadi sedikit percakapan tentang tanggal 6 Juni, sebuah tanggal dimana aku pertama kali menghirup udara dan indahnya dunia ini.

Siang harinya aku beranjak ke kampus, masih santai belum terpikir apapun. Hanya saja aku teringat hari itu aku harus pergi mengajar les privat di daerah Semolowaru Elok. Yah... aku lekatkan di ingatanku jam 17.00 aku harus sudah di rumah adik lesku untuk belajar. Sembari menunggu jam 5 sore, aku pergi ke jurusan sebelah untuk sekedar menyapa dan melihat kampanye calon ketua himpunan.

Di tengah-tengah riuh kampanye calon ketua himpunan tetangga, aku melihat jam di handphone: 16.47, sudah harus berangkat. Aku bergegas pergi ke parkir jurusan untuk mengambil motor dan segera pergi ke rumah adik lesku. Di tengah jalan, ada sms masuk. Dari ibu adik yang aku ajar. "Mas, jadi bisa ngajar?" Tangan kiriku segera mengetik balasan, "Iya bu, ini sedang di jalan"

Sampai di rumah tempat aku mengajar, ternyata rumah sepi, hanya terlihat 2 orang anak di dalam. 3 kali aku mengucap salam dan mengetuk pintu gerbang dengan kontak motorku. Tidak lama kemudian muncul adik yang akan aku ajar, Fadhil. Dia kelas 2 SMP, namun dia berbeda dengan teman-teman seumuran dia yang lain. Dia cenderung diam dan penakut. Ibu nya pernah bercerita bahwa si Fadhil memang demikian, 'berbeda' dengan yang lain sehingga aku harus memberikan perlakuan khusus padanya. Namun, spesialnya anak ini, dia berbakat dalam hal bermusik. Sekali mendengar sebuah lagu, dia bisa langsung menebak chord dari musik itu, tanpa sedikit pun memegang alat musik. Dan uniknya tebakannya itu BENAR.

Langsung aku masuk ke dalam rumah setelah dia mempersilakan, dan seperti biasa kami langsung naik ke lantai 2 rumah itu. Di lantai 2 ada studio musik ukuran 3x5 meter tempat kami les. Sebelum masuk ke studio musik itu ada sebuah ruangan sebagai tempat menyetrika dan menyimpan pakaian, sekaligus sebagai 'gudang'. Untuk naik ke lantai 2 kami harus menaiki tangga yang sangat sempit, tidak lebih dari 50 cm. Ibarat pakaian, tangga itu adalah pakaian yang press body.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja aku mengajar, sudah terdengar adzan maghrib. Yah, setelah aku memberikan sedikit materi tambahan dan latihan soal, aku izin ke Fadhil untuk pergi sholat terlebih dahulu. Biasanya setelah aku sholat, Fadhil gantian sholat sedangkan aku mengoreksi hasil pekerjaannya. *sebenarnya ingin sekali aku mengajak dia untuk sholat jama'ah, namun  apa daya, tempatnya tidak ada. Tempat sholat di rumah itu hanya sebuah papan seluas sajadah lebih luas sedikit.

Usai kami sholat, tiba-tiba lampu mati. Bukan karena pemadaman, tapi karena 'listriknya tidak kuat', bahasa kerennya "njegleg". Setelah itu dinyalakan lagi (sama adik yang paling kecil yang berada di lantai 1), tapi njegleg lagi. Seingatku hingga 3 atau 4 kali seperti itu. Hingga yang terakhir lama sekali tidak menyala lagi. Akhirnya aku minta Fadhil untuk melihat adiknya. Barangkali ada yang perlu dibantu. Namun, saat dia membuka pintu studio dia tersentak hingga tubuhnya mundur sambil berteriak.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.... api Mas api... !!!"

Seketika aku berdiri dan membuka pintu. Seperti yang dilihat Fadhil, ada api yang sudah sangat besar memakan habis ruangan tempat menyimpan baju-baju itu. Suara gemuruh api dan angin menjadi satu membuat suasana panas itu menjadi semakin panas. Api yang memakan kayu-kayu dan benda yang ada disana terdengar seperti pepohonan yang akan roboh. Semakin lama semakin keras terdengar. Aku tutup lagi pintu itu hanya sekedar untuk memperlambat jalannya api masuk ke dalam ruangan studio musik. Perasaanku tidak karuan waktu itu. Namun ada satu hal yang sedikit membuatku lebih tenang. Istighfar yang senantiasa keluar dari bibir Fadhil.

Aku mencoba membuka pintu itu lagi untuk mencari celah, mungkin masih ada yang bisa digunakan untuk jalan lari. Dan... menurutku ada! Harapan itu muncul, aku gandeng tangan Fadhil. Tanpa aku lihat wajahnya, aku bertanya padanya.

"Dek, kamu bisa lari?"
"Ndak tau mas....."  Jawabnya ragu.

Mengetahui dia ragu, aku mengurungkan niatku untuk lari. Aku berpikir dua kali. Resikonya juga besar. Kalo nanti jatuh dari tangga bagaimana? Kalo nanti Ada balok kayu yang terbakar jatuh bagaimana? Namun, kalo tidak lari mau lewat mana lagi?

Pikiranku terus berkecamuk.Ditambah lagi, suara adik Fadhil yang berteriak di bawah terdengar semakin lama semakin keras.

"Tolong, tolong, tolong!!! Mas Fadhil, mas Fadhil....!!!"

Terlintas di pikiranku, jika aku bertindak sesuai prosedur keselamatan dalam sebuah musibah, maka aku harus menyelamatkan diri terlebih dahulu. Itu artinya aku harus meninggalkan Fadhil sendirian. Tapi... aku tidak bisa!!!

Kembali aku tutup lagi pintu itu. Sebentar kemudian aku buka lagi, kali ini aku ingin mencari celah kedua. Berharap api sudah semakin kecil. Namun sebaliknya, saat aku membuka pintu justru asap hitam masuk ke dalam studio. Membuat ruangan yang gelap tanpa ventilasi itu semakin pengap dan sesak. Aku mengajak Fadhil ke pojok studio menjauhi daerah yang sudah termakan api.

Aku tak pernah melepas gandengan tanganku ke lengan Fadhil. Sejumlah bayangan berkeliaran di otakku.

....Nanti kalo benar-benar sudah tidak bisa apa-apa, aku akan dekap Fadhil, aku gunakan tubuhku untuk melindungi tubuhnya.
....Wajah ibu yang hanya memiliki aku saat ini, akankah menemui kabar tidak mengenakkan tepat tanggal 6 Juni?
....Akankah aku berakhir disini??
....Akankah kawan-kawanku besok akan mendengar kabar aku telah tiada???

Pikiran-pikiran itu semakin memenuhi ruangan di otakku. Hampir saja aku putus asa. Di penghujung keputusasaanku, aku melihat sebuah kaca buram yang digunakan untuk menambah cahaya dalam ruangan. Ketika melihat itu, lantas keluar pertanyaan dari mulutku dengan setengah sadar.

"Dek, ada pintu lain ndak?"
"Ada mas, tapi gak pernah di pake, di ujung sana."

Mendengar jawaban itu, bergegas semangatku pulih, ada secercah harapan di dalam ruangan itu. Aku mencari-cari di daerah yang dimaksud Fadhil. Rupanya sudah ditutup dengan lapisan kedap suara dalam studio. Sehingga aku harus membongkarnya. Pelan tapi pasti, aku menemukan gagang pintu itu. Aku tarik ternyata masih terhalang karpet. Aku bereskan karpet yang cukup tebal itu agar pintu bisa segera dibuka. Setelah berhasil terbuka ternyata masih ada satu pintu lagi. Pintu ini terkunci!!! Aku berusaha mendobraknya. Dobrakan pertama gagal. Kembali terlintas bahwa harusnya aku bisa dengan mudah membuka pintu itu, gunakan positive thinking dan lanjutkan dengan jurus karate. Ya, dobrakan kedua dengan sekali tendang, dan dengan seizin Allah, alhamdulillah...  Pintu terbuka. Aku melongok keluar, disambut atap rumah tetangga Fadhil. Segera aku bantu turun si Fadhil. Tetangganya membantu dari bawah.

Ketika akan turun, aku teringat ada sesuatu yang tertinggal. Tas, jaket, dan laptop ku tertinggal di studio. Segera aku lari kembali lewat atap rumah, lewat pintu yang sudah jebol, dan bergegas aku mencari dan mengambil barang-barangku. Allah masih berkenan memberikan aku kesempatan hidup. Aku berhasil lolos dari jebakan api itu. Tak selang beberapa lama setelah aku turun, api sudah masuk ke dalam studio.

Aku menunggu di bawah, menenangkan Fadhil dan adiknya sembari menunggu Ibu dan Bapaknya datang. Syukur alhamdulillah, ujian ini telah terlewati. Sepulang dari kejadian itu, mulutku seakan terkunci. Aku teringat dosa-dosa yang pernah aku perbuat. Aku malu! Allah saja masih mau menyelamatkanku di penghujung keputus-asaannku. Lalu dimana aku menempatkan Allah di hatiku selama ini? Ya... Hidup dan Matiku (serta kita semua) ada di genggaman-Nya. Tak pantas kita sombong, tak pantas kita membanggakan dan memuji diri sendiri.

Kita telihat baik, karena memang Allah masih belum membuka kehinaan kita. Semoga kita bisa menjadi lebih baik, karena kita mau berbenah dari segala kelemahan dan kekurangan kita.

Wallohu a'lam bishshowab...

                                          
                                                             foto rumah pasca kebakaran

Beritanya ada disini.

Selasa, 22 Mei 2012

Rindu Ramadhan



Bismillah...

Aroma Ramadhan sudah tercium lo... how about you?

Sekarang sudah bulan Rajab. Dulu para sahabat berdoa, "Ya Allah Ya Rabb, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan." Ingin tumpah rasanya nih air mata ketika membaca dan mengamalkan doa itu.

Betapa indahnya bulan itu,
Betapa sejuk hati di bulan itu,
Betapa banyak orang yang bersukur bisa menemui bulan itu,
Betapa sering Al-Qur'an dibaca semerdu-merdunya di bulan itu,

Bulan dimana Al-Qur'an dulu diturunkan,
Bulan dimana di dalamnya ada malam yang lebih baik dari 1000 bulan,
Bulan dimana Allah menutup pintu neraka serapat-rapatnya,
Bulan dimana Allah membuka pintu surga selebar-lebarnya,

Bagiku...
Ramadhan memiliki tempat tersendiri di hati...

.Ramadhan pernah menggoreskan tinta indah penuh kenangan bersama Tias, adikku. Berlomba memperbanyak bacaan Al-Qur'an, berlomba memperbanyak hafalan doa, berlomba memperbanyak kebaikan yang lainnya. Sekarang dia sudah kembali pada-Nya, semoga Engkau memberikan tempat terindah di sisi-Nya.
.Ramadhan juga bulan yang dipihkan oleh Allah untukku melakukan sebuah perubahan besar yang hingga detik ini aku bisa bertahan. Mempercayakan kepada-Nya 3 hal yang memang sudah menjadi bagian-Nya.
.Ramadhan punya banyak cerita. Cerita pondok Ramadhan ketika SD,SMP,dan SMA. Semua masih lekat kuat di benak. Ah, bagaimana rasanya berbagi, bagaimana rasanya ketika dapat kiriman buka puasa dari teman-teman saat pondok Ramadhan, bagaimana rasanya makan di satu tampah besar bareng kawan-kawan Majelis Ta'lim Nurul Iman, bagaimana rasanya menyiapkan buka bersama di Gempa Smada, cerita memperoleh banyak teman dan serasa dipersaudarakan lewat Kobar (buko bareng) di Manarul 'ilmi oleh kawan-kawan RDK.
.Ramadhan juga memberikan kesan tersendiri saat Dia memanggil bapak ke haribaan-Nya. Tepat di dalam lingkar tangan pelukanku, tepat saat aku membacakan surat-surat indah dari-Nya di dekat telinga beliau. Semoga Dia mengampunkan segala dosa beliau, menerima segala amal ibadah beliau, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Lebih daripada itu, Ramadhan memang punya kesan yang tak akan pernah habis diungkapkan dalam kata dan tulisan.

Semangat menyambut Ramadhan. Semangat menyambut kemenangan.
Prepare dari sekarang ya...

Terinspirasi dari para sahabat yang merindukan kedatangan Ramadhan dan bersedih ketika akan meninggalkan bulan Ramadhan. Semoga Engkau sampaikan kami pada bulan mulia-Mu itu ya Rabb...
 
 
Blogger Templates