semoga Allah menjaga hatiku dan hatinya untuk tetap berjalan di jalan-Nya...
sungguh tiada yang mengetahui dunia beserta isinya lebih baik daripada Engkau ya Rabb...
jika dia memang merasa apa yang aku rasa, semoga Engkau memunculkan keyakinan dalam hatinya bahwa aku akan menjemputnya, layaknya keyakinan yang sekarang juga sedang aku mantapkan...
*dari kejauhan ada yang "ehm! ehm!" --> dasar anak muda --> tapi boleh juga doanya, gak ada yang salah dengan doa dan harapan itu... =D
Sabtu, 11 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
Tentang Rencana DIA
Skenario Allah memang sungguh unik. Tak ada yang bisa menebak bagaimana alur yang telah direncanakan Allah kepada hamba-nya. Terkadang skenario itu terasa begitu berat dan menyakitkan. Terkadang terasa sungguh menyiksa. Terkadang pula terasa sangat mudah dan membuat kita tersenyum bahagia. Sekali lagi tak ada yang bisa menebak apa yang dia rencanakan untuk hamba-Nya. Hanya satu yang bisa ditebak, "Rencana Allah Selalu Indah".
*****
"Kamu ini kenapa sih dek? Dia itu pria yang baik. Mengapa engkau menolaknya?" tanya Indah kepada adiknya, Ita.
"Ndak tau mbak, masih belum sreg aja." jawab Ita polos.
"Kamu itu memang susah dek..." sahut Indah sambil pergi meninggalkan adiknya sendiri di kamar 3x3 itu.
Ita merenungi apa yang tadi sore dia alami dan keputusan apa yang dia ambil. Sore tadi ada seorang pria yang menyatakan cinta kepadanya, Bagus, seorang sopir di sebuah pabrik. Namun Ita menolaknya begitu saja, padahal Bagus sudah menunggu di depan pintu pabrik sabun tempat dia bekerja berjam-jam. Dia memandangi lampu kamarnya yang redup, dan mengadu kepada Tuhannya. Walaupun dia masih belum terlalu paham bagaimana cara mengadu yang tepat. Ita memang tidak terlalu paham dengan agama yang sekarang dia yakini, yang dia tahu hatinya bergetar dan kemudian membimbing bibirnya bergeming mengucap asma Allah yang biasa dia dengar di surau dekat rumahnya.
Beberapa bulan berlalu. Bagus datang lagi ke Ita dengan segenap keyakinan yang telah dibangunnya kembali untuk mendapatkan hati gadis pujaannya itu. Dia memakai hem lengan pendek dengan celana jeans yang sudah sedikit lusuh warnanya. Jam tangan tua melingkar di tangannya yang gelap. Dia mengajak Ita untuk minum es degan di dekat pabrik tempat mereka bekerja. Setelah sekian lama terdiam membisu berdua, akhirnya Bagus memulai pembicaraan dengan Ita.
"Ta, apa kamu sudah punya pacar?" tanyanya halus.
"Belum." Jawab Ita singkat.
"Lalu, ......." tiba-tiba Bagus kik-kuk, bingung mau berkata apa.
"Apa Gus?" tanya Ita polos.
"Kenapa kamu dulu tidak mau menerimaku?" lanjut Bagus memberanikan diri.
"Ndak tau." kata Ita
"Oke, sekarang a a paa... ka ka mu u mau me me nerimaa cinta ku?" tanya Bagus dengan lidah yang sangat kaku
"......." Ita memandang Bagus
Bagus hanya tertunduk lesu, seakan tenaga ntuk mengatakan cintanya tadi jauh lebih berat dari benda-benda besar yang diangkat truknya setiap hari.
"Maaf Gus, aku ndak bisa." kata Ita perlahan.
Tiba-tiba dua daun kering jatuh di hadapan Bagus. Dia menatap pekat daun itu. Hatinya remuk, namun tetap berusaha menghibur sekuat tenaga, "Mungkin bukan dia yang dijodohkan Allah kepadaku. Namun, kenapa perasaan dan firasatku begitu kuat kepadanya? Begitu juga firasat mbak Indah dan teman-teman pabrik lainnya. Wallohua'lam..." Kemudian Bagus mangajak Ita untuk segera pulang. Berjalan berdua beriringan, namun bagi Bagus tetap saja merasa seperti ada tembok besar panjang yang menghalangi di antara keduanya.
*****
Suatu pagi ketika berangkat kerja, bagus bertemu dengan Indah. Mereka berbincang singkat dan kemudian langsung berpisah. Indah memberikan saran kepada Bagus untuk langsung melamar saja si Ita, agar Ita tidak meragukan lagi cinta Bagus kepadanya. Bagus pun menyanggupinya. Dia berniat menemui Ita sore itu juga.
"Ta, walaupun kamu sudah mengatakan tidak 2 kali kepadaku, aku masih ingin mengatakan hal ini kepadamu." Bagus memulai percakapan di warung es degan tempat mereka bertemu beberapa waktu yang lalu.
"Aku ndak bisa Gus... ndak tau kenapa?" jawab Ita sambil menunduk
"Pertanyaannya kenapa kamu gak bisa Ta? Oke, kali ini aku ingin melamarmu menjadi istriku." lanjut Bagus serius.
Bagai tersambar petir, Ita tersentak mendengar perkataan Bagus barusan hingga gelas nya hampir saja jatuh.
"Aku ingin menggenapkan separuh agamaku Ta. Aku ingin menemukan tulang rusukku. Aku ingin... " belum selesai Bagus melanjutkan usahanya untuk berbicara... Ita memotong.
"Iya...aku mau." jawab Ita singkat. Air matanya sudah berada di pelupuk mata. Hampir saja membanjiri pipinya. Dia masih tidak tahu apa yang dia lakukan sekarang. jawaban iya darinya bukanlah sebuah jawaban yang dia harapkan akan keluar, namun entah kenapa hanya jawaban itu yang ada di dalam pikirannya setelah mendengar perkataan Bagus tentang separuh agama, tulang rusuk, dan lain sebagainya.
"Sungguh?" tanya Bagus tak percaya.
Ita mengangguk perlahan.
*****
Hari-hari menjelang pernikahan, Bagus dan Ita sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang ada. Berkas-berkas yang dibawa ke KUA, prosedur yang harus dijalani, persiapan walimah, dan lain sebagainya. Bagus dan Ita pergi ke KUA untuk mengurus berkas-berkasnya. Setelah mendapatkan beberapa pertanyaan kemudian mereka dipersilakan untuk pulang.
Hari-hari bahagia bagi Bagus. Perjuangannya selama ini telah membuahkan hasil. Dia menjalani aktivitasnya dengan penuh semangat, kali ini dengan semangat yang berbeda karena lembaran hidup yang baru sudah menantinya. Dia berencana mengajak pulang Ita ke rumahnya setelah mereka bekerja. Dia ingin lebih mendekatkan orang tua dan adik-adiknya kepada Ita, calon istrinya. Setelah mereka menyelesaikan tugasnya masing-masing di pabriknya mereka bergegas pergi ke terminal. Rumah Bagus 3 jam perjalanan dari rumah Ita, cukup jauh sehingga mereka harus naik bus. Sampai di rumah, Bagus dan Ita segera bersalaman dengan orang tua Bagus. Tak lama berbincang dengan calom mertuanya, Ita izin pergi ke kamar untuk menaruh barang-barang bawaanya. Bagus mengantarnya ke kamarnya. Tak ada kamar lain memang di rumah Bagus yang masih kosong. Semua kamar sudah penuh, sehingga Bagus harus mempersilakan Ita untuk menempati kamarnya. Mereka duduk di atas tempat tidur, karena memang kamar Bagus tidak cukup luas, hanya cukup diisi satu dipan dan satu lemari. Mereka berbincang dan entah angin apa yang membuat mereka merasakan kantuk yang sangat luar biasa, hingga akhirnya mereka tertidur.
Hingga ayam-ayam mulai berkokok, surau-surau mulai mengumandangkan puji-pujian. Bagus terbangun dan melihat Ita masih tertidur pulas. Mungkin masih capek. Dia menginggalkan Ita pergi ke surau. Dia ersimpuh di hadapan Allah dengan segenap rasa syukur yang memenuhi ruangan di dadanya. Akhirnya orang yang selama ini dia tunggu-tunggu mau menerima lamarannya. Walaupun sudah 2 kali dia tertolak.
*****
Ita kebingungan ketika mendapat surat dari KUA. Berkas-berkas yang telah mereka urus sudah jadi, namun ada yang menggoncangkan hati Ita. Dia membaca di dalam berkas itu ada tulisan yang menyatakan bahwa dia hamil. Dia mengingat-ingat, adakah yang salah dari jawaban-jawaban dia dulu. Mungkin ini karena ketidaktahuannya, karena keluguannya, dia bukan orang yang pandai, hanya seorang buruh pabrik. Bahkan, mengenal Tuhannya saja dia masih kesusahan. Tak lama, surat-surat itu berpindah ke tangan Bagus. Tidak kalah kagetnya dia ketika mengetahui sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa calon istrinya telah hamil. Hatinya benar-benar hancur. Dia pergi meninggalkan Ita sendiri yang masih kebingungan hingga Ita tak kuasa lagi menahan isak tangisnya. Ita hanya bisa melihat Bagus berjalan pergi meninggalkannya perlahan. Tak ada yang bisa diperbuatnya kecuali menangis. Dia memikirkan bagaimana nasib keluarganya nanti. Undangan sudah tersebar, namun apa kata para tetangga dan orang yang diundang ketika mereka tahu pernikahannya dibatalkan karena Ita hamil. Semakin deras saja air mata Ita yang mengalir.
*****
Langkah Bagus gontai, dia benar-benar tersulut amarah yang luar biasa. Dia tidak habis pikr kenapa Ita tega membohonginya. Dia menerka-nerka, mungkin ini yang membuat dia tiba-tiba menerimanya setelah dua kali menolaknya. Dia menerimanya karena dia tidak mau anak dalam kandungannya tidak memiliki seorang bapak. Setan terus membisiskkan api-api di dalam hati dan terus mengalir panas dalam nadinya. Dia semakin merasa dunia ini pecah belah saat bapaknya juga menyalahkan.
"Bagaimana bisa hal itu tidak mungkin? Lha ketika di rumah saja kalian sudah berani tidur berdua di kamar? Padahal dia belum menjadi istrimu, sengaja bapak dan ibu dulu diam untuk menjaga hati kalian."
"Tapi kami tidak melakukan apapun Pak, kami hanya capek lalu ketiduran."
".........."
Bagus hanya bisa meratap dan mengadukan semua keluhannya kepada sang Rabb, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Adil, Yang Maha Segalanya. Memang sebuah obat mujarab ketika seorang hamba sedang ditimpa masalah/cobaanadalah hanya menyandarkan harapan kepada Rabbnya, bukan kepada makhluk lainnya. Dia tidak tahu apakah dia akan melanjutkan pernikahan ini atau tidak. Dia terlelap setelah menyungkurkan wajahnya dalam sholat tahajud dan sholat istikharahnya.
Di tempat lain, Ita segera menelusuri ada dimana letak kesalahannya. Dia baru teringat saat petugas bertanya kepadanya sudah terlambat datang bulan berapa lama, namun dia menjawab dengan santai sekian hari, karena memang pada waktu itu dia memang sedang terlambat datang bulan. Dia sempat merasa aneh dengan pertanyaan itu, namun dia segera teringat cerita teman-temannya yang mengatakan bahwa terkadang petugas itu suka bertanya hal yang aneh-aneh. Ita bertanya kepada petugas dan petugas itu mengatakan surat dokter yang dia terima memang menyatakan bahawa Ita sedang hamil. Maka bergegas Ita melangkahkan kaki ke tempat dokter dimana dia periksa kesehatan. Disana dia menanyakan hasil dan ternyata dokter tersbut salah memberikan hasil di surat keterangan Ita. Secercah cahaya sudah muncul. Ita senang ternyata hasilnya salah. Namun, dia bingung apakah Bagus masih mau kembali bersamanya? Ita sangat lugu, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia berpikir Bagus tidak akan terima apapun alasannya, bahkan Ita berpikir mungkin Bagus tidak akan kembali menjemputnya lagi.
*****
Keesokan harinya pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Terdengar salam dari luar, suaranya tidak asing lagi bagi orang-orang di rumah Ita. Ya, Bagus datang kembali ke rumah Ita. Senyum Ita mengembang, tak menyangka pemuda itu masih saja tegar datang kembali ke rumahnya setekah ada badai yang menrjang. Perlahan hati Ita bersyukur, hati Ita benar-benar telah luluh, kini dia berdoa dalam hati, semoga orang ini adalah orang yang tepat. Orang yang dikirim Allah untuk menjadikan dia kenal dengan Tuhannya, menjadikan dia pahamakan agamanya, menjadikan keluarga dan anak-anak yang sholeh untuknya.
"Ita, aku ingin mengajakmu ke KUA lagi sekarang. Aku masih belum yakin dengan tulisan kemarin. Mungkin ada yang salah." Kata Bagus memulai pembicaraan.
"Tidak perlu..." jawab Ita singkat.
"Kenapa?" Tanya Bagus penasaran.
"Aku sudah tahu jawabannya, lebih baik kita langsung ke tempat dokter dimana aku periksa saja." kata Ita
"oke, ayo.." sahut Bagus.
Sesampainya di tempat praktek dokter, Bagus dijelaskan oleh sang Dokter bahwa kemarin murni kesalahan dia. Sang dokter mengatakan bahwa Ita sebenarnya tidak hamil. Jika memang Ita ini hamil, sang dokter bersedia dituntut karena telah memberikan keterangan palsu.
Senyum Bagus terkembang, semangatnya kembali lagi. Sesegera mungkin dia menghubungi orang tuanya untuk memberitahukan kabar bahagia ini. Tak kalah senangnya Ita. Dia benar-benar merasa nyaman dengan kehadiran Bagus. Ketegaran dalam menanti dan kelapangan dada Bagus benar-benar telah membuat hati Ita lemas, sehingga tak ada kata lain selain ikhlas untuk menerima pinangan dari Bagus.
*****
Di ujung jalan, di bawah pepohonan di samping rumah baru mereka di desa, Bagus dan Ita mengingat masa lalu mereka. Bersyukur betapa hebat rencana Allah. Kini mereka telah dikaruniai 2 orang anak. Sebuah perjalanan cinta yang cukup mengesankan. Mereka mengingat cerita ini ketika salah seorang anak mereka bertanya, "Bagaimana masa-masa pacaran Ibu dan Bapak?"
"PACARAN???" No, tidak ada pacaran dulu. Bagus dan Ita langsung menikah tanpa ada proses pacaran sebelumnya. Sebuah jalan kebenaran yang mungkin diberikan khusus oleh Allah kepada Ita yang memang masih belum paham secara dalam agamanya pada waktu itu. Dan kepada Bagus sehingga dia bisa berada pada jalan yang benar lepas dari dia sudah paham atau belum pada waktu itu.
Lalu, kenapa masih banyak yang meragukan sebuah pernikahan tanpa proses pacaran sebelumnya? Padahal sudah jelas sangat banyak fakta yang membuktikan banyak juga pernikahan yang tidak langgeng walaupun mereka sudah pacaran bertahun-tahun sebelumnya. Apa yang mereka cari? Hati-hati pada jebakan batman, upss... jebakan nafsu belaka. Terutama dan lebih khusus bagi kita yang sudah paham, ini adalah pilihan. Pada dasarnya, jodoh kita sudah tertulis di lauhl mahfudz. Pilihannya ada di cara kita menjemput dia, mau cara yang diridhoi Allah atau tidak. Wallohua'lam bishshowab...
Sebuah cerpen terinspirasi dari kisah nyata, tak banyak yang diubah karena skenario yang dibuat Allah sudah sempurna, sesempurna manusia yang telah dia ciptakan untuk beribadah kepada-Nya. "Rencana Allah Selalu Indah"
**#####**
Selasa, 31 Januari 2012
Mari Berbenah...
bismillah...
Menjadi sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda memang tidak gampang... Menjadi sesuatu yang kemudian diharapkan banyak orang ternyata juga tidak gampang... Menentukan sebuah pilihan untuk masa depan ternyata juga tidak gampang...
Terkadang itu semua akan menjadi beban yang sungguh tidak terkira... ingin rasanya menjauhkan diri dari peredaran, kemudian memaksimalkan hal-hal yang bisa kita berikan ala kita saja...
begitu juga yang terjadi pada diri ini... detik ini, engkau menang atas izin Allah... namun atas izin Allah pula, tunggulah saat-saat kemenangan diri dengan syukur yang tidak terkira...
Menjadi sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda memang tidak gampang... Menjadi sesuatu yang kemudian diharapkan banyak orang ternyata juga tidak gampang... Menentukan sebuah pilihan untuk masa depan ternyata juga tidak gampang...
Terkadang itu semua akan menjadi beban yang sungguh tidak terkira... ingin rasanya menjauhkan diri dari peredaran, kemudian memaksimalkan hal-hal yang bisa kita berikan ala kita saja...
begitu juga yang terjadi pada diri ini... detik ini, engkau menang atas izin Allah... namun atas izin Allah pula, tunggulah saat-saat kemenangan diri dengan syukur yang tidak terkira...
Senin, 16 Januari 2012
Jujur? Siapa Takut?!

Pernah melihat air yang jernih semacam itu sahabat? segar sekali sepertinya, namun ada yang jauh lebih segar dibandingkan itu, yakni mewarnai kehidupan kita dengan sebuah kejujuran.
Aku punya sebuah cerita, pengalaman berharga yang Allah berikan untuk dijadikan sebuah pelajaran. Tidak hanya bagiku tapi juga bagi kawan-kawan sekalian. Ini berbicara tentang sebuah kejujuran dan keyakinan kepada Allah untuk membalas kejujuran yang telah dilakukan.
Pengalaman ini baru SATU dari sekian banyak pengalaman yang aku punya tentang sebuah kejujuran. Selama ini kita pasti INGIN melakukannya, tapi entah kenapa kita ENGGAN melakukannya, BUKAN tidak bisa.
Sebuah hal yang sangat wajar ketika seseorang memiliki kelebihan namun juga memiliki kekurangan. Nah ini sebuah hal yang sangat lemah bagiku, yaitu menghafal. Baik ketika masih duduk di bangku sekolah dan sekarang duduk di bangku kuliah, mata pelajaran dan mata kuliah yang biasanya mendapat nilai "pas-pas an" adalah yang berhubungan dengan hafalan.
Sebuah cerita yang sangat dramatis, ketika aku masuk kelas IPA waktu SMA. ada satu pelajaran yang menjadi momok bagiku, yakni Biologi, bagaimana tidak? ini pelajaran banyak menghafal meen... coba Matematika, Kimia, Fisika... hmMm... ciaaat.... LIBAS habis...!
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Menginjak kelas XII, itu artinya sebentar lagi aku UAN. Waooow.. sudah bisa ditebak, apa yang menjadikanku dag dig dug der... yups... BIOLOGI... oh My God, ya'apa iki Bilogiku?!
Pagi itu, seperti biasa aku melangkahkan kaki dengan yakin sedikit maksa rasa "yakin"nya. Setelah sehari sebelumnya belajar dan bermunajat semaksimalnya kepada Allah. Aku memasuki kelas yang tampak lebih bersih dari sebelumnya, lebih rapi dari bisanya. Angin dingin kota itu bersemilir, membuat hati semakin tak menentu. Tteettt.... Tteeeet.... Tteeeeetttt.... bel tanda ujian dimulai. Pengawas membagikan LJK dan Soal. Bismillah.... aku mulai mengisi LJK terlebih dahulu, perlahan aku warnai bundaran-bundaran hitam berisi identitas diri. Setelah selesai semua, bismillah.... aku buka perlahan naskah soal biologiku. Seperti biasanya aku lihat jumlah soalnya. Waouw... 40 soal! Oke, akan saya kerjakan...
Jarum jam terus berdetak, sekian menit telah aku lalui. Aku kerjakan soal-soal yang aku anggap mudah. Aku melewati soal-soal yang aku anggap sulit. Subhanallah...cepat sekali aku sampai di lembar akhir. Ketika aku periksa lagi jawabanku... jiaaach.... ternyata hanya 11 (kalo tidak 12 soal) yang sudah aku jawab. Pantes cepet banget ngerjainnya. Otakku berpikir, aku ulang-ulang lagi soal-soal yang yang belum aku jawab, dan hasilnya.... BLANK! aku masih belum bisa menemukan jawabannya.
Teringat batas minimal nilai, aku harus mencapai minimal nilai 4,25. Sedangkan yang sudah aku jawab, belum sampai separo.. bahkan masih jauh dari separo... itupun belum tau benar/salahnya. Aku mulai gundah. Namun alhamdulillah, sejak SD aku diajarkan oleh bapak dan ibu guruku untuk senantiasa berdoa ketika menghadapi kesulitan termasuk kesulitan saat ujian. Sejak SD aku didoktrin untuk anti mencontek. Al hasil...ingatan dari memoriku itu semakin membuatku gundah. Bagaimana tidak, itu artinya dengan kondisi aku baru mengerjakan sedikit jawaban dari 40 soal aku tidak tahu harus berbuat apa, ANTI CURANG mameen... Ditambah lagi kawan kanan-kiriku sudah mulai bergerak, menoleh, tanda kecurangan-kecurangan sudah dimulai. Di tengah keadaan seperti itu, aku tetap berniat untuk bertahan JUJUR. Tiba-tiba teringat lagi bahwa aku sudah diterima di ITS lewat PMDK reguler, gak lucu banget kan kalo aku gagal masuk ITS gara-gara gak lulus ujian dan itu karena satu mata pelajaran?? ALLAH.... hatiku berteriak...
Aku menundukkan kepala, terus mengucap sholawat dan doa. Aku takut membuat orang tuaku kecewa, tapi aku lebih takut membuat Allah kecewa. Aku larut dalam sholawat dan doa hingga akhirnya... PLUK... ada secuil kertas jatuh di depanku... sempat terekam olehku 4-5 jawaban, kebetulan kemampuan visualku baik jadi gampang banget merekam. Lantas tidak berlama-lama aku dengan kertas itu, hanya sekian detik saja hingga akhirnya kertas itu sudah aku pindahtangankan. Tetap, aku tidak mau melakukan kecurangan. Pikiranku berkecamuk lagi, bagaimana dengan 4-5 jawaban tadi??? Aku terlanjur tahu, astaghfirullah... lalu aku baca soal-soal yang sudah aku tahu jawaban dari kertas tadi dan ternyata aku ingat bahwa memang itulah jawabannya. Yasudah..aku menghibur diri, mungkin itu salah satu bentuk pertolongan Allah, kan tidak sengaja terekamnya jawaban tadi. Setelah itu aku lihat lagi jumlah soal yang sudah aku kerjakan. Tetap belum mencapai separuhnya...
........Pengawas sudah menginagtkan bahwa waktu sudah hampir habis. Lalu aku mantapkan hati, aku baca lagi soal-soal itu. Ibarat orang yang mendapat ilham, walaupun tidak tahu jawaban pastinya, mana yang membuat hatiku sreg itu yang aku lingkari... dan sekejap...LJK ku sudah penuh. Alhamdulillah...
Ttteeett...Ttteeeettt....Ttteeeett.... Bel tanda ujian telah usai sudah berbunyi. Aku keluar ruangan dengan gontai, lesu, ingin sekali berteriak dan menangis sekeras-kerasnya pada waktu itu. Terbayang selalu LJK ku yg tadinya kosong kemudian tiba-tiba penuh karena aji 'pengawuran'ku. Terbayang pula angka "4,25", terbayang juga kampus "ITS" yang sudah aku punya. Ah, entah pa yang akan terjadi nanti, aku pasrahkan semua pada Allah. Lalu aku teringat kejadian-kejadian yang telah lalu, seringkali Allah memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang benar-benar BENAR. Dan itu sangat MUDAH bagi-Nya. Aku berharap ada keajaiban, paling tidak nilaiku 5 atau 6 sajalah... itu sudah cukup, yang penting aku lulus dan bisa kuliah di ITS.
Beberapa bulan kemudian, ketika hari pengumuman.... Aku mendapat sebuah amplop berisi nilai-nilai Ujian Akhir Nasional. Hatiku berdesir lagi kali ini... Kawan-kawan pasti tahu apa yang akan aku lakukan dan nilai apa yang pertama kali aku lihat? Ya, BIOLOGI.
LUUUAAARRRR BIIAAAASSAAAA, Tahu nilai BIOLOGI ku berapa di UAN??? bukan 4,25 bukan juga 5, bukan juga 6, 7, 8... Tahu berapa??? 9??? ouwww.. YA! ternyata nilai BIOLOGI ku "10" kawan... lebih baik dari nilai-nilai pelajaran lain dan yang telah aku perkirakan. Sebuah keajaiban yang jauh di luar dugaan. Mau bukti, akan aku tunjukkan nilai itu padamu!
Bagaimana??? Masih ragu dengan pertolongan Allah???
Hehehe..tiba-tiba teringat himbauanku kepada pengurus himpunan dan kawan-kawanku di musim ujian kemarin. Berantas korupsi sejak dini, galakkan gerakan kejujuran termasuk saat ujian. Jangan berteriak Anti korupsi jika sekarang masih ada tindak-tindak kecurangan termasuk saat ujian.
Menurut Erie Sudewo dalam bukunya "Best Practice Character Building Menuju Indonesa Lebih Baik", nilai JUJUR termasuk salah satu dari tiga karakter dasar yang harus dimiliki seseorang. So, tunggu apa lagi sekarang? Jauh lebih takut kita terhadap balasan-Nya di akhirat dibanding balasan-Nya yang ada di dunia. Benar gak? ^^b
Lihat berita ini, betapa sakit dan mirisnya hati ini ketika membaca berita tersebut. Mungkin sebagian dari kawan-kawan menganggap ini adalah hal yang 'masih bisa' dibenarkan, namun sekarang sebelum menyelesaikan bacaan ini, mari merenung sejenak, tanyakan pada diri kawan-kawan semua, jawab dengan HATI, aku yakin jawaban yang keluar adalah itu mutlak 'tidak bisa' dibenarkan. begitu pula pendapat Prof Daniel M Rosyid, seorang guru besar ITS jurusan Teknik Kelautan yang juga Penasihat Dewan Pendidikan Jatim.
Yuk, perbaiki negeri ini dengan memperbaiki diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil semacam ini. Aku membayangkan jika semua orang berusaha memperbaiki dirinya masing dengan sebenar-benarnya BENAR, maka perubahan itu bukan lagi hanya sekedar harapan... so, Lakukan itu, start from NOW!
Best Regards
Sahabatmu: Arif Setiyono ^^
Bermimpi itu GRATISSS!!! maka Bermimpilah...
NONTON yuk...!!!
postingan yang ini memang sedikit berbeda... =)Rabu, 11 Januari 2012
Sahabat...
Izinkanlah aku menemani mu tak hanya di kala kau bahagia, Izinkanlah aku tetap di sini berjalan beriringan bersama mu walau buliran airmata menetes dari sudut ruang mata mu.
Meringankan beban mu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi ku. Berbagi dengan mu adalah salah satu hal terindah dalam hidup ku. Dan tersenyum bersama mu adalah salah satu hadiah terbaik yang ku dapatkan.
Ingatkah dulu…
Saat kita bersama mengukir sebuah senyuman, berbagi cerita penuh cinta, mengais hikmah bersama dalam setiap episode kehidupan… hingga menitikkan air mata bersama saat gulita yang kita temukan. ingatkah kau?
Sahabat,
Aku bukanlah malaikat, aku hanyalah manusia biasa yang penuh dengan segala kekurangan. Aku tahu rasa cinta pada mu adalah hal yang utama dibandingkan aku mencintai diri ku sendiri. Namun…bila kelak kau menemukan cacat pada diri ku yang tanpa sengaja menyakiti mu, janganlah kau hujat aku. Yang aku minta adalah ingatkan aku dengan nasihat yang penuh dengan hikmah kehidupan…kemudian maafkanlah aku…
Sahabat,
Aku pun menyadari bahwa kau pun sama sepertiku yang hanya manusia biasa. Jika kelak aku pun menemukan cacat pada mu, tak akan ku hakimi kau dengan lisan ku ataupun dengan tangan ku. Namun…akan ku panjatkan doa pada Sang Ilahi agar dengan segera Dia memberikan kedamaian dan kelapangan dalam hati ku hingga tak ada dendam merasuki hati ini. Dan jika kau tak berkeberatan izinkan jua aku mengingatkan mu dengan nasihat yang penuh dengan hikmah kehidupan…
Sahabat,
Ingin sekali aku belajar dari seorang Abu Bakar yang tidak mengeluh saat ada hewan menggigit pergelangan kakinya ketika Rasulullah sedang tertidur di pangkuannya. Karena rasa cinta yang ada pada Abu Bakar kepada Rasul lah yang pada akhirnya mengurungkan niat beliau untuk mengganggu istirahat Sang Nabi. hingga akhirnya meluruhlah air mata beliau dari pelupuk matanya karena menahan rasa sakit itu. Atau kisah cinta para Sahabat lainnya kepada Rasulullah hingga cinta itu utuh sempurna terhimpun menuju syurga-Nya. Itulah ukhuwah….
Sahabat,
Percayalah… semua itu ada karena rasa cinta. Rasa cinta yang tumbuh bukan karena kau adalah seorang yang kaya, bukan pula karena kedudukan mu di dunia atau bukanlah karena kepintaran mu semata. Sungguh, Allah lah yang telah menghimpun rasa ini dalam jiwa dan hati kita hingga kita raih bersama hakikat cinta yang sesungguhnya, yaitu Cinta Karena-Nya…
Dari Umar bin Khatab RA, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, ‘sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya, beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah? Beliau menjawab, ‘mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena Allah SWT, meskipun di antara mereka tiada ikatan persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati manakala manusia bersedih hati.’ Lalu Rasulullah SAW membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud).
Langganan:
Postingan (Atom)
