Jumat, 01 April 2011
Rabu, 16 Februari 2011
Balasan Surat Akhwat
Tulisan ini aku persembahkan untuk para ikhwan dan akhwat yang luar biasa...
para ikhwan yang sudah mendapatkan banyak surat dan tulisan tentang curhatan para akhwat, termasuk saya, mari menginstropeksi diri, apakah kita sudah benar-benar menjaga hati kita?
para akhwat yang telah menuliskan surat dan tulisan buat para ikhwan, mari juga menginstropeksi diri...
jadi intinya semua mari berpikir, merenung, kembali menginstropeksi diri kita masing-masing. Sebelum melanjutkan membaca, silakan tarik nafas antum, tahan sejenak, lalu hembuskan dengan mengucap basmalah perlahan.
Untuk para akhwat, memang kami seringkali memulai sebuah obrolan ringan terlebih dahulu dengan antun. Jika antun merasa bahwa antun mendapatkan perhatian lebih, maafkanlah kami. Kami hanya memberikan perhatian itu sekedarnya. Seringkali kami tidak merasa berlebihan dalam memberikan perhatian itu. Hanya sebagai penyambung ukhuwah saja, seperti yang kami lakukan dengan ikhwan lainnya. Bukankah rasa berlebihan itu mungkin muncul karena pemikiran antun sendiri? sekali lagi afwan, kita hanya ingin kita sama-sama menginstropeksi diri.
Jika ada seorang ikhwan yang menyampaikan dia akan ta'aruf dengan antun "suatu saat", maka hentikanlah harapan dia dengan mengucapkan, "maaf aku hanya milik Allah sekarang, jika antum belum siap untuk ta'aruf dengan ana, maka janganlah antum katakan itu sekarang. Ana hanya akan menunggu dan menerima orang yang benar-benar mantap mengatakan bahwa dia akan ta'aruf dengan ana di hadapan wali ana sekarang juga."
Jujur kami pun tak ingin iman kami goyah. Maka tolong bantu kami untuk menjaganya. Karena antun pun hendaknya tahu bahwa salah satu hal yang bisa menggoyahkan iman kami adalah wanita. Terkadang kami lebih tertarik dengan sikap tertutup dan malu-malu antun. Maka, ketika kami menghubungi antun, cukuplah antun jawab apa-apa yang menjadi kebutuhan dari apa yang kami perlukan. Tidak perlu dijawab dengan jawaban-jawaban yang akan menimbulkan pertanyaan lagi kemudian. Jika kami khilaf menggoda antun, maka segeralah antun ingat dan ingatkanlah kami. Atau antun tidak perlu menjawab itu sehingga itu tidak akan berlanjut.
Maafkan kami ukht karena kuatnya godaan dari setan yang terkutuk. Sekuat tenaga pula kami akan berusaha melawannya.
Sampai jumpa di pertemuan pertama yang akan menjadikan kehidupan kita berubah nantinya. "ta'aruf"... semoga Allah senantiasa memberikan kita yang terbaik.
Janji Allah adalah wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Maka marilah kita "keren"-kan diri kita, kita kuatkan iman kita, sehingga ketika waktu itu sudah tiba, kita benar-benar sedang dalam keadaan puncaknya wanita/laki-laki yang baik, sehingga kita pun akan mendapatkan laki-laki/ wanita yang baik pula.
Wallohu a'lam...
para ikhwan yang sudah mendapatkan banyak surat dan tulisan tentang curhatan para akhwat, termasuk saya, mari menginstropeksi diri, apakah kita sudah benar-benar menjaga hati kita?
para akhwat yang telah menuliskan surat dan tulisan buat para ikhwan, mari juga menginstropeksi diri...
jadi intinya semua mari berpikir, merenung, kembali menginstropeksi diri kita masing-masing. Sebelum melanjutkan membaca, silakan tarik nafas antum, tahan sejenak, lalu hembuskan dengan mengucap basmalah perlahan.
Untuk para akhwat, memang kami seringkali memulai sebuah obrolan ringan terlebih dahulu dengan antun. Jika antun merasa bahwa antun mendapatkan perhatian lebih, maafkanlah kami. Kami hanya memberikan perhatian itu sekedarnya. Seringkali kami tidak merasa berlebihan dalam memberikan perhatian itu. Hanya sebagai penyambung ukhuwah saja, seperti yang kami lakukan dengan ikhwan lainnya. Bukankah rasa berlebihan itu mungkin muncul karena pemikiran antun sendiri? sekali lagi afwan, kita hanya ingin kita sama-sama menginstropeksi diri.
Jika ada seorang ikhwan yang menyampaikan dia akan ta'aruf dengan antun "suatu saat", maka hentikanlah harapan dia dengan mengucapkan, "maaf aku hanya milik Allah sekarang, jika antum belum siap untuk ta'aruf dengan ana, maka janganlah antum katakan itu sekarang. Ana hanya akan menunggu dan menerima orang yang benar-benar mantap mengatakan bahwa dia akan ta'aruf dengan ana di hadapan wali ana sekarang juga."
Jujur kami pun tak ingin iman kami goyah. Maka tolong bantu kami untuk menjaganya. Karena antun pun hendaknya tahu bahwa salah satu hal yang bisa menggoyahkan iman kami adalah wanita. Terkadang kami lebih tertarik dengan sikap tertutup dan malu-malu antun. Maka, ketika kami menghubungi antun, cukuplah antun jawab apa-apa yang menjadi kebutuhan dari apa yang kami perlukan. Tidak perlu dijawab dengan jawaban-jawaban yang akan menimbulkan pertanyaan lagi kemudian. Jika kami khilaf menggoda antun, maka segeralah antun ingat dan ingatkanlah kami. Atau antun tidak perlu menjawab itu sehingga itu tidak akan berlanjut.
Maafkan kami ukht karena kuatnya godaan dari setan yang terkutuk. Sekuat tenaga pula kami akan berusaha melawannya.
Sampai jumpa di pertemuan pertama yang akan menjadikan kehidupan kita berubah nantinya. "ta'aruf"... semoga Allah senantiasa memberikan kita yang terbaik.
Janji Allah adalah wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Maka marilah kita "keren"-kan diri kita, kita kuatkan iman kita, sehingga ketika waktu itu sudah tiba, kita benar-benar sedang dalam keadaan puncaknya wanita/laki-laki yang baik, sehingga kita pun akan mendapatkan laki-laki/ wanita yang baik pula.
Wallohu a'lam...
Selasa, 15 Februari 2011
Mutiara kecilku...
Mungkin tak banyak orang tahu bahwa dulu aku pernah memilikimu. Tak banyak pula orang yang tahu bahwa aku menyayangimu. Bahkan kamu sendiri mungkin belum pernah mendengarkan ungkapan sayangku padamu. Tapi percayalah bahwa aku merasakan itu, dan aku yakin kamu pun juga begitu.
Semua terasa cepat, ketika mengingat dulu aku sempat memilikimu. Ketika aku sudah berhak untuk dipanggil dengan "mas". Walaupun waktu itu aku masih terlalu hijau untuk merasakan apa yang namanya kebahagiaan memilikimu. Perlahan kaki kecil kita mulai melangkah menapaki hidup ini. Tangan mungil kita mulai menyentuh harapan-harapan yang suatu saat akan kita wujudkan.
Tak banyak yang bisa kuingat ketika kita masih balita. Hingga suatu ketika aku mulai paham dengan apa yang bisa aku lihat, dengar, dan rasakan. Tanpa kamu sadari kamu lah yang membuatku hafal dengan ayat kursi dengan celoteh-celotehmu setiap hari. Tanpa kamu sadari hafalan itu akhirnya melekat dan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampai-sampai aku bisa menghafalnya tanpa tahu sedikitpun bagaimana tulisannya. Itu karena rahmat Allah lewat tuturmu.
Lucunya kamu tidak akan pernah terlupa. Pernah dengan gelagat polosmu, kamu membuat orang lain tersenyum dengan menyimpan keheranan. Kamu terus mengucapkan doa-doa mujarab yang telah kamu hafal saat macet di hari lebaran. Khasnya suaramu memecah keheningan dan kejenuhan para penumpang waktu itu. Juga gigihnya hatimu telah meruntuhkan gigihnya teman-teman sebayamu yang enggan mengaji kala itu. Hingga guru ngaji kita berpikir, mungkin kamulah orang yang akan menjadi pelopor perubahan wanita di kampung kita. Karena magnetmu yang bisa memberikan gaya tarik pada teman-temanmu untuk bisa datang menimba ilmu yang mulia.
Teringat pula ketika kita menemui hari lahir kita, aku memberikanmu kejutan, kamu pun begitu padaku. masih teringat jelas ketika kamu membuat peta rahasia yang kemudian peta itu menunjukkan dimana kamu menyimpan hadiah untukku. Walaupun hadiah itu sangat sederhana, berupa alat tulis, gantungan kunci dan sejenisnya, namun yang lebih penting adalah sebuah makna. Makna yang tersimpan dalam lubuk terdalam mengisi jiwa.
Teringat ketika kita berjalan bersama menuju rumah Allah untuk memenuhi panggilannya. Tanganku melingkar di pundakmu. Seakan tak ingin waktu itu kan berlalu. Sungguh kamu benar-benar mengajakku untuk kebaikan. Ketika aku malas untuk itu, maka rasa malu padamu, itu yang akhirnya jadi alasan, dan akhirnya keterpaksaan itu mengantar pada sebuah keikhlasan. Karena mau atau tidak mau akulah yang akan menjadi salah satu teladan bagimu. Sungguh keistiqomahanmu waktu itu luar biasa. Bahkan ketika maghrib diselimuti hujan gerimis, kamu tetap berangkat memenuhi panggilan-Nya, mengalahkan aku yang memilih mendekam di rumah nyaman kita. Mungkin keindahan memenuhi panggilan-Nya waktu itu lebih nyaman bagimu daripada segalanya.
Kamu tidak pernah mau kalah denganku. Dalam hal akademik, kamu ingin membuktikan bahwa kamu benar-benar adikku yang bisa memberikan hasil terbaik dan membanggakan. Ketika belajar tak jarang aku memarahimu karena ketidaksabaranku mengajarmu, namun kamu sabar menghadapi emosiku. Hingga apa yang kamu inginkan untuk tak akan kalah dariku itu terwujud.
Hingga suatu malam, kita belajar bersama. Kamu memintaku untuk memperbaiki pensil trekpenmu. Kemudian dengan sedikit otak-atik, kelar sudah pensil itu. kuberikan padamu dan kamu balas dengan ucapan terima kasih, "suwun mas..." Sangat dalam kurasa terima kasih itu, hingga hatiku merasa ada yang lain disana. Belum pernah aku merasakan terima kasih sedalam itu. Kamu melanjutkan belajarmu dan saat itu aku lihat pekat wajahmu. Tanpa kamu sadari aku sudah jauh tenggelam dalam pandanganku.
Ternyata malam itu menjadi malam terakhir kebersamaan kita. Pagi ketika kamu hendak berangkat sekolah, aku masih memperhatikanmu. Ntah mengapa aku melakukan itu, padahal aku tidak pernah melakukannya sebelumnya. Kamu memompa sepedamu. terbesit aku ingin menolongmu, tapi kutangguhkan karena aku ingin mengajarkanmu bahwa kamu juga harus bisa melakukan sesuatu, tidak selalu meminta tolong padaku. Dan sepertinya waktu itu kamu paham maksudku hingga tak sepatah kata minta tolong terucap dari bibirmu.
Hingga hari itu matahari hampir tergelincir ke barat.... Ada seorang adik kelasmu yang berlari ke rumah kemudian mengabarkan bahwa kamu kecelakaan. Sungguh tidak pernah kusangka bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu denganmu. Lemas tubuh ini, rasanya tak kuat menopang lagi kaki ini untuk berdiri. Namun inilah kenyataannya. perlahan bergetar di bibir, "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un..." 150207 adalah hari yang menjadi batas pemisah ruang dan waktu antara aku dan kamu.
Ketika dimakamkan, aku ingi menjadi orang terdepan untuk mengantarmu. Kain kafan mulai dibuka di bagian kepala, aku melihat wajahmu dalam. Seakan kamu tidur nyenyak sekali, tenang, layaknya ketika kamu tidur karena kelelahan. Tanpa sadar perlahan air mataku kembali meleleh, tak kuasa aku menahan semua rasa itu. Hingga aku dibawa pergi oleh orang-orang di sekitarku kemudian ditenangkan oleh guru-gurumu yang dulu juga guru-guruku.
Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima segala amal ibadahmu, memberikanmu tempat terbaik di sisi-Nya, dan menjadikanmu penolong bagi ibu dan bapak kelak yang telah mengikhlaskan kepergianmu dulu. Semoga kamu telah memaafkanku atas semua khilaf yang pernah kulakukan padamu. Dan terima kasih atas segala hal yang telah kamu berikan padaku. Semoga kelak kita dipertemukan di tenpat terindah di sisi-Nya, dikumpulkan pada golongan yang mendapat sambutan hangat dan syafaat junjungan alam yang kita rindukan, Rasulullah Muhammad SAW.
Kamu adalah adik terbaik yang tidak akan pernah tergantikan... Kamu adalah inspirator yang telah menginspirasiku... Kamu adalah motivator yang telah memotivasiku... Kamu adalah mutiara kecilku... Yang akan menjadi salah satu hal terindah dalam hidupku....
Rabu, 12 Januari 2011
Laziem.... uopo wie (Apa itu) ???
Bismillah...
Sebenarnya aku menulis ini untuk adik2ku yang sekarang masih berada di bangku SMA, tapi sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui... Sekalian aku ingin mengenang, bernostalgia akan masa-masa indah itu, yang kini sudah terlewat kawan, dan hanya menjadi sebuah kenangan...
Beranjak dari ajakan kami kemarin yang ternyata mendapat respon yang sangat kurang
Sebenarnya aku menulis ini untuk adik2ku yang sekarang masih berada di bangku SMA, tapi sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui... Sekalian aku ingin mengenang, bernostalgia akan masa-masa indah itu, yang kini sudah terlewat kawan, dan hanya menjadi sebuah kenangan...
Laziem 3... silakan cari fotoku disana..hhe
Beranjak dari ajakan kami kemarin yang ternyata mendapat respon yang sangat kurang
Coretan kecil untuk angkatanku dan himpunanku...
Kawan, aku hanya ingin menuliskan
apa yang ada dalam pemahamanku. Jika ada yang lebih paham daripada aku, aku
sangat berharap dia mau berbagi denganku dan kita semua, karena keterbatasan
ilmu yang aku miliki dan keterbatasan pengetahuanku akan hal ini. Semoga ini
menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua...
Hal yang ingin aku tulis disini
adalah tentang diskusi-diskusi kita beberapa hari terakhir ini. Tapi sebelumnya
aku mohon maaf jika tindakanku membuat tulisan ini adalah suatu hal yang
ternyata kurang berkenan...(jaga-jaga iki... hhe ) ^^
Luar biasa sekali ternyata
orang-orang yang hebat di sekitarku selama ini, yang berusaha membangun
almamater tercinta dengan sesuatu yang berharga. Btw alias ngomong2 masalah
ini, langsung aja nih... tentang amanah sebagai kahima. Wah... lagi jadi isu
hot di angkatan kita tercinta... begini kawan, aku hanya ingin menyampaikan
sesuatu yang pernah aku dapatkan, aku pengen share dengan teman2 semua,
barangkali ternyata yg aku dapatkan ini masih kurang bisa aku pahami.
Kamis, 06 Januari 2011
Perjuangan di Penghujung Kepasrahan (2)
tidak banyak yang akan saya tambahkan sebagai kelanjutan dari ceritaQ sebelumnya disini...
beberapa waktu yg lalu, HPq berdering...dan ketika aq lihat, yg telp adalah Iksan.
dia mengabarkan padaQ suatu berita yg mencengangkan....
"Rif, aq dipilih menjadi orang yang mendapatkan amanah itu..." Ini berarti dia mendapatkan amanah sebagai PRESIDEN BEM, sebuah sejarah baru dalam hidupnya dan Akamigas tentunya. Sedangkan beberapa waktu yang lalu dia juga mengabarkan bahwa dia juga diterima sebagai asisten dosen... (Ingat ketika dia dulu sering mendapatkan nilai tidak lebih dari SKBM)
"Ketika aku mendengar itu, ada banyak rasa yang bercampur, antara senang, bangga, kasihan.." (lhoh, koq kasihan??)
Itu karena amanah merupakan tanggung jawab yang harus dia pertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Semoga dia bisa melaksanakan amanah itu sebaik-baiknya, sehingga amanah itu benar-benar bisa menjadi ladang ibadah untuk dirinya...
Itulah kawan, buah dari sebuah kejujuran... hikmah dari orang yang mengesampingkan keputusasaan...
Sekarang giliranmu.... BUATLAH SEJARAHMU!!! Sejarah yang membanggakan dari hasil yang membanggakan pula... dari sesuatu yang diridhoi Allah menuju sesuatu yang diridhoi-Nya pula...
Semoga bermanfaat.....
beberapa waktu yg lalu, HPq berdering...dan ketika aq lihat, yg telp adalah Iksan.
dia mengabarkan padaQ suatu berita yg mencengangkan....
"Rif, aq dipilih menjadi orang yang mendapatkan amanah itu..." Ini berarti dia mendapatkan amanah sebagai PRESIDEN BEM, sebuah sejarah baru dalam hidupnya dan Akamigas tentunya. Sedangkan beberapa waktu yang lalu dia juga mengabarkan bahwa dia juga diterima sebagai asisten dosen... (Ingat ketika dia dulu sering mendapatkan nilai tidak lebih dari SKBM)
"Ketika aku mendengar itu, ada banyak rasa yang bercampur, antara senang, bangga, kasihan.." (lhoh, koq kasihan??)
Itu karena amanah merupakan tanggung jawab yang harus dia pertanggungjawabkan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Semoga dia bisa melaksanakan amanah itu sebaik-baiknya, sehingga amanah itu benar-benar bisa menjadi ladang ibadah untuk dirinya...
Itulah kawan, buah dari sebuah kejujuran... hikmah dari orang yang mengesampingkan keputusasaan...
Sekarang giliranmu.... BUATLAH SEJARAHMU!!! Sejarah yang membanggakan dari hasil yang membanggakan pula... dari sesuatu yang diridhoi Allah menuju sesuatu yang diridhoi-Nya pula...
Semoga bermanfaat.....
Rabu, 05 Januari 2011
Bersama-sama masuk surga
Cerpen Rudi Setiawan
Pada hari penghisaban (penghitunngan atas amal perbuatan manusia) sedang mengantre empat orang manusia dengan berlainan profesi sewaktu masih hidup di dunia.
Manusia pertama bernama Alim, yang konon sewaktu masih hidup di dunia adalah seorang kyai yang sangat terkenal keluasan ilmunya dan kesalehan ibadahnya serta mempunyai ribuan santri.
Manusia kedua bernama Somad, yang mana sewaktu masih hidup di dunia berprofesi sebagai Kepala Desa yang sangat disayangi oleh warganya karena kejujuran dan keadilannya.
Manusia ketiga bernama Badri, dimana sewaktu hidupnya merupaka seorang juragan yang sangat kaya raya serta terkenal pula kedermawanannya dan kemurahan hatinya dalam menolong dan membantu orang-orang yang kesusahan.
Manusia keempat bernama Soleh, yaitu ketika hidupnya adalah merupakan seorang tukang becak yang biasa mangkal di terminal.
Keempatnya sewaktu didunia tinggal di desa yang sama, meskipun bukan tetangga yang saling berdekatan
rumahnya.
Dan kebetulan pula kematian merekapun hampir bersamaan waktunya, meskipun dari sebab yang berbeda-beda.
Kyai Alim, meninggal dunia karena sakit sepuh (tua) karena beliau memang ditakdirkan Allah SWT berusia lanjut, hingga kira-kira 95 tahun.
Lurah Somad, meninggal karena terbunuh oleh seorang pesaing politiknya yang iri dengki melihat pengaruh Lurah Somad yang demikian kuat pada semua warganya. Pesaingnya ini merasa dendam akibat dikalahkan sewaktu PILKADES, padahal dia sudah mengelurakan uang demikian banyak untuk menyuap dan membayar penduduk supaya memilihnya.
Haji Badri (demikian biasanya orang menyebutnya), meninggal akibat sakit komplikasi yang membuatnya harus menginap selama sebulan di sebuah rumah sakit ternama di sebuah kota besar ibukota provinsi.
Kang Soleh, meninggal dunia disebabkan karena kecelakaan di jalan raya, dimana sewaktu kang Soleh pulang dari mangkalnya di terminal, ditengah perjalanan sebuah truk tronton dengan kecepatan tinggi menabraknya dari belakang yang mengakibatkan dia tewas seketika di jalan itu.
……………………………….
Ketika itu yang mengantri paling depan adalah Kyai Alim.
Maka berkatalah Malaikat penghitung kepadanya:
“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” demikian Malaikat berkata sambil membentak.
“ Perkenalkan, nama saya Alim, selama hidup saya adalah seorang kyai yang wara’, zuhud dan ‘alim serta selalu mengamalkan dan mengajarkan ilmu saya kepada banyak sekali murid di pesantren saya, seumur hidup saya selalu membaktikan diri saya untuk agama dan umat, kenapa saya mesti masuk neraka ?“ Kyai Alim berupaya memprotes.
“ Iya betul, tetapi dalam setiap amaliyahmu selalu terselip perasaan ujub, kau selalu merasa paling alim, paling wara’, paling zuhud, paling khusyuk, maka kau tak pantas masuk syurga, karena sifat ujub adalah bagian dari kesombongan, tempatmu adalah neraka, maka pergilah kau kesana!”, Malaikat membentak, lalu melemparkannya ke neraka.
Pengantri yang kedua adalah Lurah Somad, yang kemudian dipanggil pula untuk menghadap.
“He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” Malaikat berkata kepada Lurah Somad.
“ Lho kok bisa begitu Malaikat ? “ protes Lurah Somad.
“ Padahal selama hidup saya tidak pernah maksiyat kepada Allah, saya selalu menjalankan perintah agama dengan sungguh-sungguh, dan juga sewaktu menjadi Kepala Desa saya selalu bersikap adil, jujur, amanah, mengayomi seluruh rakyat saya, mensejahterakan kehidupan mereka serta menjadikan desa saya adil, makmur dan sejahtera”, jelas Lurah Somad membela diri.
“ Benar Lurah Somad, tetapi perlu kau ketahui bahwa dibalik sikap adilmu dan pengayomanmu kepada rakyatmu karena engkau kepingin terkenal, kepingin masyhur, dan kepingin dipuja-puja oleh rakyatmu, agar melanggengkan kekuasaanmu, sifat seperti ini adalah bagian dari kesombongan, dan kau harus masuk neraka !”, dengan bengis Malaikat berkata, kemudian menyeretnya menuju neraka.
Berikutnya yang datang menghadap adalah Haji Badri.
“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” bentak Malaikat kepada Haji Badri.
“ Mohon maaf Malaikat yang terhormat, mengapa saya harus masuk neraka, dahulu sewaktu masih hidup didunia, saya seorang yang dermawan, hampir seluruh harta saya belanjakan di jalan Allah, untuk berzakat, infaq dan sedekah, pendeknya setiap orang yang membutuhkan uluran tangan saya selalu saya bantu, hutang piutang mereka saya lunaskan, kesulitan mereka saya mudahkan”, Haji Badri mencoba menerangkan.
“ Ketahuilah wahai Haji Badri, semua kedermawananmu itu sia-sia belaka, karena kau menyembunyikan perasaan riya’, pamer dan mengharapkan pujian dari manusia lain, dengan demikian kau telah berbuat kesombongan, maka dari itu tempatmu adalah neraka !”, sambil berkata demikian Malaikat membuang Haji Badri kedalam neraka.
Kemudian datanglah kang Soleh dengan mengendarai becaknya mengantri dihadapan Malaikat.
“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu pantas masuk syurga !” Malaikat berkata dengan lembut kepada kang Soleh.
“ Karena dibalik kemiskinannmu kamu tidak berputus asa dari rahmat Allah, kamu selalu bersyukur dan tidak pernah mengeluh, serta semua ibadah yang kamu lakukan dilandasi rasa ikhlas semata-mata kepada Allah, maka dari itu Allah mengganjarmu dengan syurga-Nya “, Malaikat melanjutkan penjelasannya.
“ Terima kasih wahai Malaikat, tetapi saya tidak mau masuk syurga kalau Kyai Alim juga tidak masuk syurga !”, kata kang Sholeh.
“ Lho kenapa ?”, tanya Malaikat.
“ Sebab, saya bisa tahu cara beribadah, saya belajar teori keikhlasan adalah karena saya berguru dan mengaji kepada Kyai Alim, maka saya tidak mau masuk syurga jika guru saya Kyai Alim tidak dimasukkkan ke syurga !”, harap kang Sholeh.
“ Baik, baik, atas kemurahanmu, Kyai Alim boleh masuk syurga bersamamu “, kata Malaikat.
“ Iya tetapi saya tetap tidak mau masuk syurga, jika Lurah Somad tidak masuk syurga “, kang Sholeh menyanggah lagi.
“ Lho ada apa ini ?”, heran Malaikat.
“ Karena berkat keadilan Lurah Somad serta perlindungannya kepada kaum miskin seperti saya, maka saya merasa hidup tentram dan nyaman di desa itu, maka saya mohon agar Lurah Somad bisa masuk syurga bersama saya “, kang Soleh memohon.
“ Boleh, boleh, berkat kemurahanmu pula, Lurah Somad bisa masuk syurga bersamamu “, kata Malaikat.
“ Malaikat boleh tidak aku minta satu permintaan lagi ?”, tanya kang Soleh.
“ Apa permintaanmu selanjutnya ?”, balik tanya Malaikat.
“ Aku minta Haji Badri, dimasukkan syurga pula bersamaku ,” jawab kang Soleh.
“ Apa alasan yang kamu ajukan, mengajak Haji Badri ke syurga bersamamu ?”, kembali Malaikat bertanya.
“ Karena Haji Badri sering kali membantuku jika aku kesulitan, dan harap diketahui wahai Malaikat, bahwa becak yang merupakan saranaku mencari rejeki dengan halal di jalan Allah ini merupakan pemberian dari Haji Badri, demikian harap kiranya Haji Badri dimasukkan syurga bersama saya ,” harap kang Soleh.
“ Baik, baik, sebab kemurahanmu kalian berempat boleh masuk syurga bersama-sama “, demikian Malaikat menutup persidangan empat orang tersebut.
Lalu mereka berempatpun bersama-sama naik syurga dengan membonceng becak kang Soleh, yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. (Wallaahu A’lam Bishowab)
Doha, 5 October 2010
Rudi Setiawan: Lahir di Kertosono, Jawa Timur 02 Juni 1976, seorang TKI yang saat ini sedang bekerja di Doha, Qatar. Menulis cerpen dan puisi-puisi yang di share di facebook dan media-media online.
Copas dari: http://oase.kompas.com/read/2010/12/31/05060786/Kang.Soleh.Naik.Becak.Menuju.Syurga-8
Pada hari penghisaban (penghitunngan atas amal perbuatan manusia) sedang mengantre empat orang manusia dengan berlainan profesi sewaktu masih hidup di dunia.
Manusia pertama bernama Alim, yang konon sewaktu masih hidup di dunia adalah seorang kyai yang sangat terkenal keluasan ilmunya dan kesalehan ibadahnya serta mempunyai ribuan santri.
Manusia kedua bernama Somad, yang mana sewaktu masih hidup di dunia berprofesi sebagai Kepala Desa yang sangat disayangi oleh warganya karena kejujuran dan keadilannya.
Manusia ketiga bernama Badri, dimana sewaktu hidupnya merupaka seorang juragan yang sangat kaya raya serta terkenal pula kedermawanannya dan kemurahan hatinya dalam menolong dan membantu orang-orang yang kesusahan.
Manusia keempat bernama Soleh, yaitu ketika hidupnya adalah merupakan seorang tukang becak yang biasa mangkal di terminal.
Keempatnya sewaktu didunia tinggal di desa yang sama, meskipun bukan tetangga yang saling berdekatan
rumahnya.
Dan kebetulan pula kematian merekapun hampir bersamaan waktunya, meskipun dari sebab yang berbeda-beda.
Kyai Alim, meninggal dunia karena sakit sepuh (tua) karena beliau memang ditakdirkan Allah SWT berusia lanjut, hingga kira-kira 95 tahun.
Lurah Somad, meninggal karena terbunuh oleh seorang pesaing politiknya yang iri dengki melihat pengaruh Lurah Somad yang demikian kuat pada semua warganya. Pesaingnya ini merasa dendam akibat dikalahkan sewaktu PILKADES, padahal dia sudah mengelurakan uang demikian banyak untuk menyuap dan membayar penduduk supaya memilihnya.
Haji Badri (demikian biasanya orang menyebutnya), meninggal akibat sakit komplikasi yang membuatnya harus menginap selama sebulan di sebuah rumah sakit ternama di sebuah kota besar ibukota provinsi.
Kang Soleh, meninggal dunia disebabkan karena kecelakaan di jalan raya, dimana sewaktu kang Soleh pulang dari mangkalnya di terminal, ditengah perjalanan sebuah truk tronton dengan kecepatan tinggi menabraknya dari belakang yang mengakibatkan dia tewas seketika di jalan itu.
……………………………….
Ketika itu yang mengantri paling depan adalah Kyai Alim.
Maka berkatalah Malaikat penghitung kepadanya:
“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” demikian Malaikat berkata sambil membentak.
“ Perkenalkan, nama saya Alim, selama hidup saya adalah seorang kyai yang wara’, zuhud dan ‘alim serta selalu mengamalkan dan mengajarkan ilmu saya kepada banyak sekali murid di pesantren saya, seumur hidup saya selalu membaktikan diri saya untuk agama dan umat, kenapa saya mesti masuk neraka ?“ Kyai Alim berupaya memprotes.
“ Iya betul, tetapi dalam setiap amaliyahmu selalu terselip perasaan ujub, kau selalu merasa paling alim, paling wara’, paling zuhud, paling khusyuk, maka kau tak pantas masuk syurga, karena sifat ujub adalah bagian dari kesombongan, tempatmu adalah neraka, maka pergilah kau kesana!”, Malaikat membentak, lalu melemparkannya ke neraka.
Pengantri yang kedua adalah Lurah Somad, yang kemudian dipanggil pula untuk menghadap.
“He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” Malaikat berkata kepada Lurah Somad.
“ Lho kok bisa begitu Malaikat ? “ protes Lurah Somad.
“ Padahal selama hidup saya tidak pernah maksiyat kepada Allah, saya selalu menjalankan perintah agama dengan sungguh-sungguh, dan juga sewaktu menjadi Kepala Desa saya selalu bersikap adil, jujur, amanah, mengayomi seluruh rakyat saya, mensejahterakan kehidupan mereka serta menjadikan desa saya adil, makmur dan sejahtera”, jelas Lurah Somad membela diri.
“ Benar Lurah Somad, tetapi perlu kau ketahui bahwa dibalik sikap adilmu dan pengayomanmu kepada rakyatmu karena engkau kepingin terkenal, kepingin masyhur, dan kepingin dipuja-puja oleh rakyatmu, agar melanggengkan kekuasaanmu, sifat seperti ini adalah bagian dari kesombongan, dan kau harus masuk neraka !”, dengan bengis Malaikat berkata, kemudian menyeretnya menuju neraka.
Berikutnya yang datang menghadap adalah Haji Badri.
“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu harus masuk neraka !” bentak Malaikat kepada Haji Badri.
“ Mohon maaf Malaikat yang terhormat, mengapa saya harus masuk neraka, dahulu sewaktu masih hidup didunia, saya seorang yang dermawan, hampir seluruh harta saya belanjakan di jalan Allah, untuk berzakat, infaq dan sedekah, pendeknya setiap orang yang membutuhkan uluran tangan saya selalu saya bantu, hutang piutang mereka saya lunaskan, kesulitan mereka saya mudahkan”, Haji Badri mencoba menerangkan.
“ Ketahuilah wahai Haji Badri, semua kedermawananmu itu sia-sia belaka, karena kau menyembunyikan perasaan riya’, pamer dan mengharapkan pujian dari manusia lain, dengan demikian kau telah berbuat kesombongan, maka dari itu tempatmu adalah neraka !”, sambil berkata demikian Malaikat membuang Haji Badri kedalam neraka.
Kemudian datanglah kang Soleh dengan mengendarai becaknya mengantri dihadapan Malaikat.
“ He fulan, melihat kitab catatan amalmu kamu pantas masuk syurga !” Malaikat berkata dengan lembut kepada kang Soleh.
“ Karena dibalik kemiskinannmu kamu tidak berputus asa dari rahmat Allah, kamu selalu bersyukur dan tidak pernah mengeluh, serta semua ibadah yang kamu lakukan dilandasi rasa ikhlas semata-mata kepada Allah, maka dari itu Allah mengganjarmu dengan syurga-Nya “, Malaikat melanjutkan penjelasannya.
“ Terima kasih wahai Malaikat, tetapi saya tidak mau masuk syurga kalau Kyai Alim juga tidak masuk syurga !”, kata kang Sholeh.
“ Lho kenapa ?”, tanya Malaikat.
“ Sebab, saya bisa tahu cara beribadah, saya belajar teori keikhlasan adalah karena saya berguru dan mengaji kepada Kyai Alim, maka saya tidak mau masuk syurga jika guru saya Kyai Alim tidak dimasukkkan ke syurga !”, harap kang Sholeh.
“ Baik, baik, atas kemurahanmu, Kyai Alim boleh masuk syurga bersamamu “, kata Malaikat.
“ Iya tetapi saya tetap tidak mau masuk syurga, jika Lurah Somad tidak masuk syurga “, kang Sholeh menyanggah lagi.
“ Lho ada apa ini ?”, heran Malaikat.
“ Karena berkat keadilan Lurah Somad serta perlindungannya kepada kaum miskin seperti saya, maka saya merasa hidup tentram dan nyaman di desa itu, maka saya mohon agar Lurah Somad bisa masuk syurga bersama saya “, kang Soleh memohon.
“ Boleh, boleh, berkat kemurahanmu pula, Lurah Somad bisa masuk syurga bersamamu “, kata Malaikat.
“ Malaikat boleh tidak aku minta satu permintaan lagi ?”, tanya kang Soleh.
“ Apa permintaanmu selanjutnya ?”, balik tanya Malaikat.
“ Aku minta Haji Badri, dimasukkan syurga pula bersamaku ,” jawab kang Soleh.
“ Apa alasan yang kamu ajukan, mengajak Haji Badri ke syurga bersamamu ?”, kembali Malaikat bertanya.
“ Karena Haji Badri sering kali membantuku jika aku kesulitan, dan harap diketahui wahai Malaikat, bahwa becak yang merupakan saranaku mencari rejeki dengan halal di jalan Allah ini merupakan pemberian dari Haji Badri, demikian harap kiranya Haji Badri dimasukkan syurga bersama saya ,” harap kang Soleh.
“ Baik, baik, sebab kemurahanmu kalian berempat boleh masuk syurga bersama-sama “, demikian Malaikat menutup persidangan empat orang tersebut.
Lalu mereka berempatpun bersama-sama naik syurga dengan membonceng becak kang Soleh, yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. (Wallaahu A’lam Bishowab)
Doha, 5 October 2010
Rudi Setiawan: Lahir di Kertosono, Jawa Timur 02 Juni 1976, seorang TKI yang saat ini sedang bekerja di Doha, Qatar. Menulis cerpen dan puisi-puisi yang di share di facebook dan media-media online.
Copas dari: http://oase.kompas.com/read/2010/12/31/05060786/Kang.Soleh.Naik.Becak.Menuju.Syurga-8
Langganan:
Postingan (Atom)



